Sabtu, 15 Januari 2011

Pesta

Aku mempunyai seorang tetangga yang sangat dermawan, dia selalu mengadakan pesta setiap hari semenjak aku kanak-kanak dan aku tak pernah melewatkan satu hari pun untuk tidak berpesta di sana.

Hari ini sepulangku dari tempatku bekerja aku bersiap untuk menghadiri pesta malam ini. Menurut undangan yang kuterima, malam ini hidang spesialnya adalah pai apel saus madu. Ahh, sudah lama aku ingin menikmati pai yang spesial ini semenjak sepuluh tahun lalu. Aku sering terlewat untuk pesta pai spesial ini, hanya sekali aku ikut menikmati pai apel saus madu itu dua tahun lalu itupun aku memperoleh pai basi.

Aku mengobrol dengan beberapa penjaga pintu sekedar basa-basi. Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar sebuah pengumuman yang menyatakan pesta sudah dimulai. Para pengikut pesta semua dipersilakan untuk menikmati hidangan yang tersedia sesuai selera masing-masing, namun malam itu aku hanya ingin menikmati pai apel saus madu, bukan yang lain. Aku mencoba mencari meja hidang pai apel saus madu, namun sekali lagi aku kecewa karena semua apel pai telah tandas bahkan remah-remahnya pun tak ada yang tersisa.

Kulihat banyak orang mengambil lebih dari satu apel pai lalu hanya memakannya separuh, bahkan banyak pula yang hanya mengunyah-kunyah lalu meludahkannya ke tempat sampah atau ke lantai. Perasaanku saat itu kecewa tak terkatakan, sebuah penantian untuk menikmati pai apel saus madu kandas, namun aku belum putus asa. Aku datangi si tuan rumah demi memohon sepotong apel pai untuk sedikit memenuhi rasa inginku menikmatinya.

" Tuan, apel pai saus madu yang terhidang di sana telah tandas, apakah Tuan masih memilikinya barang sepotong ? "

" Semua yang terhidang telah kucukupkan, janganlah kau memintanya lagi ! "

" Tapi Tuan, banyak orang mengambil dengan seenaknya hanya untuk bahan permainan ! "

" Mohon, Tuan mengerti dan memahaminya. "

" Itu salahmu sendiri, Nak. Semua yang terhidang telah kucukupkan, janganlah kau memintanya lagi ! "

" Maaf Tuan, terus terang saya tidak pandai berebut, tapi saya bisa bersumpah kepada Tuan apel pai itu akan saya nikmati sepenuh hati. "

" Hahahahahahahahaha, aku tak akan memberikan sepotong pun lagi kepadamu, karena yang terhidang telah kucukupkan, janganlah kau memintanya lagi ! " Jawabnya sambil terbahak-bahak dan berlalu.

Kecewaku tak terkatakan, aku memilih tak menyelesaikan pesta malam ini. Aku keluar dari rumahnya yang sangat mewah dan besar dengan langkah gontai, sembari memikirkan sikap para pengikut pesta yang tak menghargai hidangan yang disediakan, dan sikap tuan rumah yang acuh tak acuh.

Tiba-tiba dari balik sesemakan pagar aku mendengar seulas sapaan lembut;

" Tidak mendapat jatah, Nak ? " Kulihat seorang lelaki renta dengan pakaian kusut dan dekil, bahkan lalat-lalat siang pun sibuk mengerumuninya.

" Tuan, siapa ? " Tanyaku agak kaget dan merasa jijik.

" Aku sama sepertimu, Nak, orang yang tak mampu berebut kue-kue di sana." Jawabnya sambil menunjuk rumah besar tetanggaku.

" Kamu pasti tadi sudah memohon sepotong kue, setelah kehabisan, bukan ? "

" Benar, Tuan."

" Lalu dia berulang-ulang mengatakan semuanya telah dicukupkan ? "

" Benar, Tuan."

" Aahhh, aku sudah mengalaminya berkali-kali bertahun-tahun yang lalu."

" Benarkah, Tuan ?"

" Yaahh, begitu. Akhirnya aku mencoba membuat kue-kueku sendiri. "

" Aku membuat pesta-pestaku sendirian, berteman kecoa, kutu-kutu dan rama-rama."

Kemudian dia menggelar secarik kain lebar yang lusuh dan kotor, di atasnya dia susun kue-kue yang untukku tampak menjijikkan.

" Tuan, maaf ini kue apa saja, kok...? "

" Di belakang rumah si kaya banyak bahan-bahan yang dibuang karena membusuk dan tak layak olah, aku ambil semuanya dan aku ramu sendiri, ini hasilnya. Rasanya tak kalah dengan kue-kue di dalam sana. "

" Kamu mencari kue apa, Nak ? " Tanyanya dengan menunjuki kue-kue busuk dihadapannya.

" Saya mencari pai apel saus madu, Tuan. "

" Aaahhh, kue yang istimewa !!! "

" Ini, nak, ambil kue ini...ya, yang ini adalah pai apel saus madu." Katanya sembari mengambilkan sepotong benda berbentuk mangkuk kecil berwarna hitam pekat seperti kotoran domba.

" Ambil Nak, ciumlah agak lama lalu gigitlah barang sedikit, dan kau akan tahu nikmatnya sepotong pai apel saus madu. "

Aku mengambil sepotong pai ramuannya itu lalu dengan ragu-ragu aku mencoba menciumnya. uhhhhh, busuk, benar-benar busuk aromanya.

" Cium sekali lagi nak, maka kau akan mencium aromanya yang mewangi bidadari. "

Aku mencoba mencium sekali lagi, dan aaahhh, segar seperti aroma tanah berembun, seungkap wewangian dewi bumi.

Tiba-tiba dari arah rumah besar tetanggaku terdengar suara banyak orang meneriakiku;

" Haaiiiiii, jangan kau makan kue-kue busuk itu ! "

" Itu kue beracun, sekali kau memakannya kau takkan bisa memasuki rumah ini lagi !! "

" Jangan kau percayai si dekil itu, dia akan menyesatkanmu !! "

Lalu aku memandangi si dekil di hadapanku dengan perasaan ragu-ragu.

" Tuan..."

" Hahaha, mereka mengataiku tapi kau sudah melihat tingkah mereka di dalam sana, bukan ? "

" Iya, Tuan, mereka bertingkah lebih buruk dari para penyamun di ruang pesta. "

" Begini saja Nak, bawalah pai apel dariku itu pulang, lalu kau nikmati dahulu aromanya, pikirkan lagi dengan matang untuk menyantapnya, semua terserah dirimu, aku hanya ingin sedikit memberi kelegaan atas rasa kecewa yang kau alami berkali-kali. "

" Bawalah beberapa..." Katanya sambil memasukkan beberapa kue hitam kedalam kantung plastik kumal untuk dibekalkan kepadaku.

" Terimakasih banyak, Tuan. " kataku dengan membungkuk hormat.

Aku pulang dengan hati agak tenang, sekalipun kue-kue busuk itu entah kapan akan aku nikmati.

Cinta Sejati ~ Sepenggal Obrolan dengan Seorang Ibu dari Seorang Anak Cacat Mental

Aku sebelum pindah ke Bekasi mempunyai seorang teman perempuan yang juga seorang ibu. Wataknya yang ramah membuat dia mudah bergaul di komunitas para muda Katolik di tempatku saat itu. Berikut kisahnya:



Suatu hari di jelang Paskah kami ~para lajang Katolik~ mengadakan kumpul-kumpul bersama untuk mendekorasi gedung gereja. Tiba-tiba seorang anak laki-laki yang mungkin usianya sekitar 12 tahun ikut nimbrung bersama kami. Anak itu berwajah 'mongoloid', ya, seraut wajah yang umum dimiliki oleh anak cacat mental. Dia bergabung dengan kami, lalu memandangi wajah kami masing-masing kemudian tersenyum canggung. Dia menyalami kami dengan ramahnya sambil memperkenalkan namanya, waktu sampai di hadapanku dia menepuk-nepuk perutku, lalu menempelkan telinganya di situ. Perbuatannya itu membuat kami semua tertawa terbahak-bahak, dan membuatku geli.

Tiba-tiba dari arah altar gereja terdengar suara seorang ibu yang memanggil anak itu lalu dengan tergopoh-gopoh ibu itu menuju ke arah kami,

" Nak, kamu jangan mengganggu oom-oom dan tante-tante di sini ya. "

" Iya, Ma. " Sambutnya dengan senyum.

" Oooh tidak apa-apa Mbak, kami senang kok dia di sini, ramah dan murah senyum," ujarku sambil tertawa.

Seorang ibu muda yang sebaya dengan kami, berparas cantik, kulit kuning langsat bersih dengan tubuh yang cukup seksi adalah ibu dari anak ini.

Waktu itu kami sedang menikmati istirahat sore setelah mendekorasi setengah ruang gereja, dan aku sebenarnya saat itu ingin sejenak menyendiri setelah mengobrol dengan beberapa teman.

Aku menuju ke arah samping gereja yang ditanami bunga kana sekedarnya, di situ aku menemukan sebongkah batu yang cukup besar untuk kujadikan tempat duduk; kebetulan bongkah batu itu merapat ke arah tembok pagar sehingga aku bisa bersandar.

Aku tak menyangka sedari tadi si anak 'mongoloid' ini membuntutiku. Tiba-tiba dia menepuki perutku lagi lalu menempelkan telingannya di perutku.

Si ibu pun tergopoh-gopoh kembali mendatangiku,

" Maaf, ya Mas, atas tingkah anak saya ini." Kata si ibu sambil menggamit lengan si bocah.

Namun si bocah tak mau pula melepas sandaran kepalanya dari perutku.

"Enggak apa-apa kok mbak, saya ndak marah, malah saya merasa geli."

" Sekali lagi maaf ya Mas, mungkin dia teringat boneka Teddy di rumah. "

" Ndak apa-apa, Mbak. "

" Perkenalkan nama saya Augustina, Mas. "

" Saya Hank, Mbak. "

" Dia putra ke berapa, Mbak ? " ucapku untuk memecah kecanggungan.

" Ooh, dia anak tunggal saya, Mas."

" Dia mengalami keterbelakangan mental, Mas, namun dia itu buah hati tercinta saya. "

" Usia berapa Mbak, dia ? "

" Usianya baru 11 tahun, Mas. "

" Senang Mbak ya sudah punya momongan."

" Senang-nggak senang sih, Mas, tapi bahagia. "

" Mas sendiri sudah punya momongan berapa ? "

" Belum, Mbak, isteri saja belum. "

" Tapi calon sudah ada kan ? "

" Belum, Mbak. "

" Wah, Mas pemilih yaa ? "

" Iya, Mbak saya hanya memilih perempuan sebagai pendamping saya. " jawabku sambil berkelakar.

" Masalahnya ndak ada yang mau saya pilih, Mbak, hehehehehe. "

" Mas jangan merendahkan diri seperti begitulah, ndak baik, Mas. "

" Begini Mbak, beberapa gadis yang saya sukai, selalu menolak Mbak. "

" Ahh, Mas mungkin yang terlalu tergesa-gesa. "

" Saya sudah mencoba beberapa cara Mbak, dari yang pelan, menjadi 'sahabat' dahulu, sampai tembak langsung, semuanya kandas."

" Maaf, Mbak saya malah cerita masalah pribadi. "

" Ndak apa-apa Mas, setiap orang memiliki masalahnya sendiri, kok."

"Iya, Mbak, cuma sebenarnya saya tidak tahu tipe masalah yang saya hadapi, namun saya pribadi menduga karena masalah fisik."

Kami terdiam sejenak sambil menikmati tingkah anak yang tadi menempelkan telinganya di perutku. Tiba-tiba si ibu memecah kesunyian,

" Saya sudah berkeluarga selama 13 tahun, kami termasuk agak sulit mendapat momongan, baru setelah dua tahun kami menikah kami mendapatkannya, si Dion ini. "

Kemudian dia menghela nafas yang cukup panjang.

" Pada mulanya kami merasa sangat bahagia atas kelahiran Dion, namun pada tahun pertama perkembangannya, dia mengalami demam tinggi. "

" Dia mengalami stiff agak lama, lalu kami bawa ke dokter. Ketika demam turun itulah mulai tampak perbedaan pada pertumbuhan Dion. "

" Respon Dion terhadap suara menjadi melambat, dan perkembangan psiko-kognitifnya pun seperti mengalami degradasi. Intinya Dion menjadi cacat mental. "

" Selama beberapa tahun kami, saya dan suami benar-benar tidak bisa menerima keadaan Dion yang demikian, selama bertahun-tahun kami menganggap Dion sebagai mimpi buruk, bahkan suami saya hingga saat ini menganggap peristiwa kelahiran Dion tidak layak untuknya. Dia pun meninggalkan kami berdua. "

" Pada tahun-tahun penuh kebencian itu, kami sering tak habis pikir; saya cantik dan pintar, suami sayapun adalah pujaan gadis-gadis karena ketampanannya, tetapi mengapa beroleh keturunan semacam Dion ? "

" Kami protes kepada Tuhan dengan samasekali meninggalkan gereja dan kehidupan spiritual, walaupun kami masih menanggung semua kebutuhan Dion, namun bukan karena rasa cinta, melainkan untuk pemantas menunggu hingga Dion mati. "

" Saya diketuk dengan keras oleh Tuhan, adalah ketika peristiwa ayah Dion meninggalkan kami. Seharian saya menangis di kamar, saya bingung harus bagaimana karena setelah menikah saya menjadi ibu rumah tangga penuh. Waktu itu saya merasa dunia saya sudah berakhir, namun yang membuat hati saya seperti dihajar keras adalah sikap Dion yang seharian menemani saya, dia ikut menangis lalu menciumi setiap air mata yang membasahi pipi saya. "

" Saya tahu dia sangat sedih walaupun tangisannya tak bersuara. Saat itulah saya sadar bahwa cinta Dion yang cacat ini jauh lebih besar daripada cinta ayahnya yang pernah menjadi pujaan para gadis. "

Aku hanya bisa diam termangu mendengarkan kisah ini dengan hati yang masygul.

Hadiah Natal Terindah

Sebenarnya sudah lebih dari lima tahun aku menjadi umat paroki ini, namun aku termasuk yang kurang bergaul. Aku tak terlalu dikenal oleh lingkungan di paroki ini, mungkin karena aku terlalu menyibukkan diriku dengan urusanku sendiri. Ya, aku hanya umat paroki yang suam-suam kuku, hanya giat berdoa menuntut Tuhan dengan semua kehendakku yang dibalut dengan ucapan syukur pura-pura. Aku giat melakukan doa ini-itu bukan karena ingin berdekat mesra dengan Tuhan tetapi terlebih ingin membudakkan Tuhan secara halus.

Hari itu kira-kira seminggu sebelum Natal, dalam kalender liturgi saat itulah perayaan minggu sukacita atau Gaudete. Aku sedang ingin menyendiri di bangku gereja seusai misa. Aku mengilas balik setiap pengalaman pahit dan buruk hingga semuanya berlompatan di benakku seperti serombongan ikan lapar melahapi mangsa. Tak terasa sebaris air mata mengembang di pelupuk mataku,

" Oh, Tuhan sampai kapan ? " gumamku.

" Tuhan, hari ini gaudete tapi tak kurasa kegembiraan sedikitpun, bolehkah umurku selesai sekarang ? " bisikku sekali lagi.

" Saya pikir semuanya sudah selesai Tuhan, jika umur saya selesai sekarang mungkin semua harta dunia yang saya kumpulkan akan lebih berguna karena saya tak membutuhkannya lagi, dan bisa disumbangkan ke setiap yayasan anak cacat, atau panti asuhan. " aku beralasan lagi.

" Tuhan, saya mohon sudahi hidup saya. " pintaku lagi dalam gumamku.

Tiba-tiba dari belakang terdengar suara yang ringan dan ramah,

" Belum pulang, Mas ? "

Aku menengok ke belakang dan kulihat seorang lelaki setengah baya dengan kulit gelap dan kumis yang tebal dan membawa peralatan pembersih lantai, 'ah, koster gereja', ujarku dalam hati.

" Belum, Pak. "

" Mas rumahnya di sekitar Mustika Jaya, kan ? " tanya lelaki itu sambil menyapu lantai gereja.

" Benar Pak, rumah saya di situ, kok Bapak tahu ? "

" Saya sering melihat panjenengan ( = Anda) kalau saya pulang, rumah saya juga di Mustika Jaya. "

" Oh, Bapak di Mustika Jaya juga, emmm, maaf Pak, kalau saya tidak kenal Bapak. "

" Saya Hank, Pak.."

" Saya Thomas. "

" Boleh saya bantu, Pak ? "

" Ahh, jangan Mas !! "

" Pekerjaan ini adalah tanggung jawab saya, Mas, bukan pekerjaan Mas. "

" Saya memang digaji oleh paroki untuk melakukan tugas ini, Mas."

" Begini, Pak, saya hanya ingin membantu saja, kok."

" Saya tahu maksud baik Mas, tapi ini tanggung jawab saya. Saya melakukan tugas ini juga untuk merenungi kasih Tuhan di kehidupan saya, Mas."

Mendengar alasan Pak Thomas itu tergelitik rasa ingin tahuku untuk mengorek lebih jauh.

" Maksud Bapak ? "

" Dahulu Mas, sebelum saya menjadi koster di sini, saya itu petani yang lumayan berhasil di kampung." kata Pak Thomas sambil menelisik sisa-sisa sampah yang biasanya dibuang anak-anak kecil di sekitar pelataran gereja.

" Saya dahulu mengusahakan tanah saya untuk ditanami padi dan pala kependhem (=umbi-umbian), tanah yang saya miliki saat itu lumayan, satu hektar. "

" Walaupun saya pada waktu itu, tidak kurang makan dan minum, serta kebutuhan sehari-hari, saya masih saja mengeluh karena belum bisa membahagiakan anak dan isteri saya dengan harta yang saya miliki. "

" Ahhh, kapan anak-anak ini dididik oleh orang tuanya tidak membuang sampah sembarangan..." gerutu Pak Thomas ketika melihat setumpuk tissue bekas dan bungkus gula-gula.Sambil menjumputi sampah-sampah itu, Pak Thomas melanjutkan kisahnya,

" Lalu suatu ketika tanaman yang saya usahakan mengalami gagal panen, bahkan sampai tiga kali berturut-turut. Harta tabungan saya habis untuk membeli, bibit tanaman, pupuk dan obatnya. Akhirnya tanah saya jual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. "

" Saya mencoba melamar kesana-kemari untuk menjadi buruh tani, tapi rupanya memang di kampung saya waktu itu sedang mengalami wabah hama sehingga tak ada juragan yang berani menanam. "

" Saya banting stir menjadi buruh pemecah batu kapur, walaupun hasilnya jauh di bawah penghasilan saya dahulu, tetapi kalau untuk sekedar membeli sedikit beras dan lauk pauk sederhana masih cukup."

" Berapa lamakah, Bapak jadi buruh pemecah batu kapur, Pak ? " tanyaku kembali.

" Saya menjalaninya selama dua tahun Mas, dan selama itu pula isteri saya menjadi mudah mutung (=merajuk) dan anak kami yang saat itu berumur 6 tahun pun mudah sakit-sakitan. "

" Hidup saya saat itu terasa berhenti, bahkan mundur. Mulailah saya protes kepada Tuhan. Saya merasa doa saya hanya didengar oleh tembok, ikon-ikon dan patung-patung tanpa daya di gereja. Gelap !"

" Saya bahkan pernah beberapa kali tergelitik untuk menyudahi hidup saya dengan menjatuhkan diri dari atas bukit kapur. "

" Akhirnya saya menitipkan keluarga saya kepada mertua dan saudara sepupu saya. Saya titipkan isteri saya ke orang tuanya, dan anak saya titipkan ke saudara sepupu; sementara saya mencoba peruntungan dengan merantau ke Jabotabek."

" Saya dahulu merantau ke Jabotabek tanpa tahu apapun di sini, karena tak ada sanak-saudara. Saya hanya berpatokan, pokoknya saya cari alamat Gereja Katolik karena saya yakin akan diterima. "

" Namun, harapan saya kandas. Saat itu saya datang ke Paroki di Matraman Jakarta Timur, sesampainya di sana malahan saya dikira penipu yang menyamar jadi orang miskin. Sakit hati saya, Mas. Saya tetap tak mau pergi dari situ, saya berencana menginap di pelataran gereja, sampai beberapa hari hingga bekal uang saya menipis. Setiap hari saya merengek kepada koster di sana supaya boleh menggantikan atau paling tidak berbagi pekerjaannya tanpa upah."

" Akhirnya Pak Leo, koster di gereja Matraman kasihan dan dia mencarikan pekerjaan bagi saya sebagai pengurus taman dari salah seorang pedagang kaya. Ekonomi saya mulai membaik, dan saya beritahukan keadaan itu kepada isteri di kampung"

" Saya hanya bekerja setahun di tempat pedagang itu, lalu saya ditawari untuk menjadi koster di Bekasi sini. Saya terima dengan resiko gaji saya di bawah upah sebagai pengurus taman, saya terima pekerjaan sebagai koster karena menurut saya akan lebih bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. "

" Dua puluh lima tahun lalu paroki ini masih stasi, bahkan sebagian wilayah sini masih hutan. "

" Maaf Pak, memang berapa besar perbedaan antara gaji sebagai pengurus taman dan koster ? " tanyaku mengorek lebih jauh.

" Gaji saya sebagai koster hanya sekitar tigaperempat lebih rendah dibanding gaji pengurus taman, Mas. Namun itu jauh lebih baik daripada upah saya sebagai buruh pemecah batu. Sebenarnya, jika dibandingkan, gaji sebagai koster sama dengan pekerjaan saya dahulu bahkan lebih baik. Di sini saya sering mendapat makanan enak dari umat, sehingga saya bisa berhemat."

" Namun lebih dari itu, saya merasa bahagia, Mas, karena bisa akrab dengan banyak orang, dan bisa selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi Tuhan, melalui pekerjaan saya ini."

" Saya dulu penuntut Mas, sering menuntut ini dan itu kepada Tuhan, tapi semenjak saya mengenal banyak orang di sini dan menghargai serta membantu mereka layaknya saudara, seperti kata Romo, saya jadi merasa bahagia, karena mereka pun menjadi bahagia, tanpa perlu menuntut balas dari mereka, yang penting mereka tahu kita mengasihi mereka sepenuh hati; sudah cukup. "

Aku tidak bisa berkata-kata lagi, kugamit tangan yang sudah mulai mengeriput itu lalu kucium.

Aku pulang dengan ringan seperti dengan beban yang sudah terlepas. Inilah hadiah Natal terindah buatku :

" Tunjukkan bahwa kamu mengasihi tanpa menuntut satu balasan, karena Tuhan akan membuka sumber-sumber berkat sesuai kehendak-Nya yang sempurna."

(Kisah ini hanya fiktif, jika terdapat kesamaan nama pribadi dan nama tempat hanyalah satu kebetulan saja)

Sabtu, 30 Oktober 2010

Seribu Kata Mutiara dan Setetes Ketulusan

Tersebutlah dua bersaudara kembar Ika dan Eko yang mempunyai satu kesamaan hobi yaitu mengumpulkan setiap kata mutiara yang mereka temui lalu mencatatnya di dalam buku-buku besar milik mereka masing-masing.


Hampir setiap hari mereka memampangkan kata-kata mutiara yang mereka dapat entah dalam ucapan nasihat kepada teman-temannya atau menuliskannya di situs-situs jejaring dunia maya.


Mereka merasa bangga ketika teman-teman dan sahabat-sahabat mereka begitu terpukau akan "nasihat-nasihat mulia" mereka, terlebih ketika menuliskannya di status jejaring dunia maya mereka mendapat banyak respons pujian.


Suatu hari Ika tertarik pada seorang pria, lalu dia mencoba mendekati dan sedikit melakukan 'flirting', namun si pria begitu acuh tak acuh hingga si Ika 'merasa buruk rupa' dan diabaikan lalu dia menuliskan status:


"Jangan menilai isi buku dari sampulnya"


Tak beberapa lama Eko pun mengalami hal yang sama lalu dia menuliskan status yang sama.


Setelah beberapa lama, seorang gadis tertarik kepada Eko, namun Eko begitu acuh tak acuh karena baginya gadis itu tak cukup cantik untuk menarik hatinya. Tak beberapa lama kemudian kejadian yang sama juga terjadi pada Ika, namun Ika pun menolak mentah-mentah si pria sebelum mengenalnya lebih jauh dia sudah 'memprediksikan' kepribadian si pria hanya dengan melihat bentuk tubuh dan sedikit gayanya yang tidak menarik.


Peristiwa itupun lewat begitu saja, dan kegiatan mereka berdua memampangkan ribuan kata mutiara pun berlanjut seperti biasa dengan menuliskan kata-kata mutiara semacam:


'Kerendahan hati adalah bunga surga.'


'Jangan lihat tempat sampah dari isinya tetapi dari gunanya.'


'Setetes ketulusan lebih mulia dari ribuan gentong kebaikan.'


dan masih banyak lagi.


Ika dan Eko mempunyai seorang teman bernama Darma. Darma adalah seorang yang lugu dan mudah berprasangka baik, dia sangat mengagumi Ika dan Eko, namun Darma bukanlah seorang yang cerdas hingga dia hanya mampu mengingat satu kata mutiara:


"Setitik ketulusan di tengah kegagalan lebih mulia daripada seribu celaan."


dan Darma sangat terkesan pada kata mutiara ini, lalu dia mencoba meresapi, menyadari satu kata mutiara ini. Jadilah dia orang yang begitu tulus dan ikhlas menjalani hidupnya walaupun banyak ejekan dan celaan mampir di telinga dan hatinya.


Simpanan seribu kata mutiara tak akan membuatmu secemerlang berlian, bahkan seterang sinar api lilin pun tidak, kecuali kamu sanggup melakukannya.

Kamis, 14 Oktober 2010

Tajam Dan Tumpul

Pada suatu masa hidup dua orang yang sangat mengejar kesucian, sebut saja Wasis dan Bendel. Wasis sangat terkenal tajam kata-katanya dalam mencela dan sering memenangkan perdebatan dengan 'orang-orang berdosa' lalu kemenangannya itu dia persembahkan kepada Tuhan sebagai lambang bertambahnya kesuciannya.

Bendel sangat terkenal telengas tangannya dan kegiatannya di waktu senggang adalah mengasah parang sembari melantunkan puji-pujian kepada Tuhan. Bendel sangat terkenal piawai mengayunkan parangnya kepada 'orang-orang berdosa' untuk meningkatkan kesuciannya.

Suatu hari, datang seorang tua ke rumah mereka sekedar untuk meminta minum, lalu mereka berdua bergegas memberi orang tua itu minum. Pikir mereka, 'jika aku beri minum orang tua ini maka nilai kesucianku akan bertambah di hadapan Tuhan'. Setelah minum orang tua itu berkata:

" Terimakasih Nak Mas atas minumnya, dari rasanya sepertinya air ini bukan dari sumbernya, ya ? "

Mereka berdua lalu memandangi orang tua itu dengan mimik wajah tak mengerti.

Tak lama kemudian lewatlah seorang laki-laki dan perempuan asing di depan rumah Wasis dan Bendel; dari pembicaraan sepasang manusia itu tampaknya mereka suami isteri, namun si suami memperlakukan si isteri layaknya seorang budak. Demi melihat kejadian di depan matanya itu Wasis tergerak emosinya untuk mececar si laki-laki asing dengan celaan-celaan, lalu dia dan si laki-laki asing pun berdebat sengit. Singkat cerita si laki-laki asing menjadi gelagapan mendengar argumen-argumen Wasis, namun matanya masih menyiratkan amarah yang memuncak. Sekali lagi Wasis merasa di puncak kemenangan dan merasa menjadi lebih suci dari sebelumnya. Tak lama berselang si orang tua bangkit berdiri dan mendatangi pasangan asing tadi lalu entah dia berbicara apa, kemarahan si laki-laki asing tadi tampak mereda. Setengah jam setelah peristiwa tadi, lewatlah seorang gadis dengan pakaian yang cukup terbuka dan minim; demi melihat hal ini amarah Bendel langsung memuncak dan secepat angin dia menyambar parangnya, mengejar gadis tadi sambil mengayunkan parangnya dan menyumpahserapahi si gadis dengan garang. Secepat kilat orang tua tadi menghalangi gerakan Bendel hingga Bendel terjatuh, lalu katanya:

" Sabar Nak Mas, sabar, biar saya yang bicara. "

Lalu si orang tua itu mendatangi si gadis seksi tadi yang sedang jongkok dan menggigil ketakutan dan menenangkannya. Lalu si gadis pulang.

Bendel dan Wasis tidak terima atas sikap si orang tua, lalu mereka berteriak:

" Apakah kakek tidak tahu kalau kematian pun masih kurang pantas untuk mereka ?! "

Lalu Bendel mulai menyumpah:

" Kek, seorang yang membela pendosa maka dia berdosa pula dan darahnya pantas ditumpahkan ! Apakah kakek ingin seperti itu ???!!! "

" Sabar Nak Mas, saya bukan membela mereka, saya malahan mengingatkan mereka, dan setelah dari sini saya akan ke tempat mereka. "

" Aku akan kembali ke sini satu tahun lagi, " lanjut si orang tua.

Masa setahun pun berselang dan si orang tua bertamu lagi ke rumah Wasis dan Bendel; seperti setahun yang lalu dia meminta minum, lalu dia berujar:

" Ahh, sekarang airnya agak pahit ! "

Wasis dan Bendel menatap si orang tua dengan muka keruh.

Tiba-tiba lewat sepasang suami isteri yang dulu pernah bertengkar dengan Wasis, kini hubungan mereka tampak jauh lebih baik dan mesra. Tak lama kemudian lewatlah seorang gadis yang setahun lalu hampir ditebas lehernya oleh Bendel, dan kini pakaiannya jauh lebih sopan dari yang dipakainya dahulu. Wasis dan Bendel menatap mereka dengan wajah keheranan lalu mereka bertanya kepada si orang tua:

" Apa yang kau lakukan pada mereka, Kek ? "

Si orang tua tidak menjawab melainkan mengeluarkan dua potong kain putih lebar yang terkena noda tanah cukup lebar ditengahnya, lalu dia memberikan salah satu kain itu kepada Wasis dan Bendel, perintahnya:

" Bersihkanlah kain ini ! "

" Apa maksudmu orang tua, apa hakmu memerintah penolongmu ? Bukankah itu menyalahi ajaran kesucian ? " bantah Wasis

" Ya, dan memerintah orang yang pernah menolong adalah dosa dan darahnya layak ditumpahkan !!! " teriak Bendel sembari bersiap mengayunkan parangnya.

Lalu orang tua itu tersenyum, lanjutnya:

" Bukankah kalian ingin tahu apa yang aku lakukan kepada mereka ? "

" Nah, bersihkan dulu kain itu lalu kuceritakan apa yang sudah aku lakukan. "

Wasis dan Bendel dengan terpaksa mencuci kain itu dengan gigi bergemeletuk menahan amarah. Selama Wasis dan Bendel mencuci si orang tua menggunting bagian tengah yang kotor dari kain yang dipegangnya.

Setelah satu jam satu jam Wasis dan Bendel selesai mencuci dan ditunjukkannya kain yang sudah bersih, lalu bentak mereka:

" Nah, Orang Tua ini kainmu, sekarang ceritakan apa yang kau lakukan kepada mereka !!! "

Melihat kain yang dipegang Wasis dan Bendel orang tua itu pun tertawa terkekeh-kekeh, lalu katanya:

" Lihat ! Kalian butuh satu jam untuk mencuci kain itu, dan aku hanya butuh beberapa menit untuk memotong bagian dari kain yang bernoda. "

" Menurutmu kain manakah yang masih bisa digunakan, yang ada di tanganku atau yang ada di tangan kalian ? " tanya si orang tua.

" Tentu yang ada di tangan kami !!! " bentak Wasis dan Bendel bersamaan.

Lalu si orang tua itu menjawab dengan nada lembut:

" Itulah yang saya lakukan Nak Mas,...mencuci, bukan melubangi atau memangkas yang tampak bernoda. "

Kemarahan Wasis dan Bendel pun memuncak, karena merasa kesuciannya dipersalahkan lalu mereka berdua berusaha menangkap si orang tua untuk membunuhnya.

Tiba-tiba si orang tua melayang menghindar pergi sambil berujar:

" Semakin tajam mulut, semakin tumpul hati; semakin tajam parang, semakin tumpul jiwa. "

Rabu, 29 September 2010

Gadis Renta Dan Mawar Plastik

Puluhan tahun sudah gadis renta itu setiap sore duduk di atas kursi kayu mahoni peninggalan kakek buyutnya, seperangkat kursi yang dibuat dari batang sanak saudaraku yang lebih tua. Tak pernah sedetikpun dia lepas menggenggam setangkai mawar plastik berwarna marun, dan selalu mengulasi dirinya dengan dandanan yang menurutku agak berlebihan.

Di usianya yang menginjak limapuluh inipun dia masih melakukan hal yang sama seperti ketika dia remaja, menunggu sang pangeran yang telah menanam bunga mawar plastik. Selama beratus-ratus kali dia bercerita tentang pangeran impiannya~sang penanam mawar plastik~ yang tak tergantikan itu sejak dia remaja di usia enambelas; beratus-ratus kali pula kugunakan angin untuk menasihatinya melalui rekahan kering sayap-sayap buahku yang meluruh ke tanah, Namun apalah artinya; dia tak mengerti bahasaku walaupun aku mengerti kata-katanya.

Telah beratus-ratus pemuda dengan berbagai bentuk menawarkan Anggrek, Tulip, Cana, Yasmine, Margot, Bakung, Edelweiss, bahkan mawar ulas marun asli, tapi semuanya kandas oleh mawar marun plastik di tangannya.

Pernah suatu ketika seorang cenayang pembaca gurat daun dan buah yang lewat di dekatku kuluncuri ratusan sayap buah keringku yang berisi kisah-kisah galau sang gadis beserta nasihat-nasihatku. Kuminta dia menyampaikan ungkapku pada si gadis, namun selesai si cenayang membacakan uraian-uraian dari buah keringku si gadis malahan menanggapi:

" Aku tahu tentang nasihat-nasihat itu, Tuan, karena aku selalu menggunakannya untuk menghibur dan membuka wawasan hati sahabat-sahabatku, tapi...nasihat itu tidak berlaku untukku. "

" Jadi sebaiknya Tuan pergi saja, tak ada gunanya Tuan membacakan nasihat dari sebatang pohon mahoni yang sudah lama kuketahui pula." Lanjutnya ketus.

Kini dia masih setia di usianya yang menguzur menanti Pangeran Penanam Mawar Plastik.

Senin, 13 September 2010

MUJIZAT TERAKHIR

Suara dentang mistis lonceng fajar tanda Doa Brevir pagi untuk para pastor pertapa dimulai. Beberapa dari mereka terutama yang sudah sepuh dan angkatan pra Konsili Vatikan II setelah acara Doa Brevir melanjutkannya dengan pendarasan 150 ayat Mazmur lalu Doa Rosario.

Para pastor yang berada di sini memang khusus untuk bertapa, mereka mengabdikan diri kepada Tuhan dengan mendoakan dunia dengan tak kunjung putus. Aku sendiri sudah tahun ketiga berada di sini, di surga doa ini sebagai salah satu koster. Pertapaan di tepi kota Semarang inilah yang menentramkan hatiku yang tergilas roda-roda baja kehidupan. Biarlah kebahagiaanku bukan seperti pangeran-pangeran dongeng.

Sebulan ini tugasku adalah menyabit rumput untuk sapi-sapi ternak yang dipelihara oleh biara ini. Kami menyediakan beberapa petak tanah yang diolah untuk ditanami rumput gajah bersama penduduk desa yang juga kebanyakan petani dan peternak sapi. Kamipun bekerja sama dalam penjualan hasil-hasil ternak kami dengan penduduk desa.

Sudah sebulan ini kegiatan menyabit rumput kujadikan sarana meditasiku untuk semakin merasakan pelukan kehangatan Tuhan di bawah mentari; semalam kubuat satu catatan pendek dari Mazmur 136:1-9 untuk kudaraskan dalam cengkok ura-ura tembang Jawa sebisaku:

'Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik ! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya

Bersyukurlah kepada Allah dari segala ilah ! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya.'

Baru dua ayat kudaraskan tiba-tiba kudengar tangis tertahan seorang ibu paruh baya, sambil terduduk di pematang ladang rumput ini; disebelahnya tergeletak seorang pemuda kurus kering dengan tatapan kosong kedua tangan dan kakinya dibebat perban yang mulai kecoklatan dan dikerumuni lalat. Badan ibu itu tampak kuyu tak terawat dan pemuda yang disebelahnya bertelanjang dada dengan hanya bercelana pendek saja.Kudekati mereka kalau-kalau mereka membutuhkan pertolonganku, sembari untuk memenuhi rasa ingin tahuku.

"Maaf, Bu, ibu sakit ?"

"Apakah pemuda ini bersama Ibu ?" Tanyaku kepada mereka, sambil kulihat keadaannya.

"Mboten, Nak, kula mboten sakit, ingkang sakit lare niki, anak kula (tidak, Nak, saya tidak sakit, yang sakit anak ini, anak saya)" Jawab ibu itu dengan suara tertahan.

"Anak saya sudah tiga tahun keadaannya begini. Saya sudah bingung harus berbuat apa, Nak." Lanjut ibu itu dalam isak tangisnya.

"Kami ke sini karena saya tahu di sini ada pertapaan para romo Trapist."

"Dulu anak saya ini adalah lulusan seminari tinggi."

Lalu aku menggamit pundak ibu itu dan memintanya untuk mengikutiku.

"Mari, Bu, ikut saya, kebetulan saya koster di pertapaan itu." Kudekati pemuda yang tergeletak itu, lalu kugapai tangannya, kutarik hingga berdiri, kulingkarkan lengannya di leherku lalu kupapah dia.

Si ibu mengikuti kami dari belakang. Kutinggalkan seikat besar rumput gajah yang sudah kukumpulkan itu di ladang.

Letak ladang rumput gajah itu berada di kaki bukit kira-kira 1 km di bawah biara. selama perjalanan pemuda yang kupapah lebih banyak diam sambil sesekali berbisik dengan suara berat:

"Eloi Eloi lema azvatani." Satu petikan refren Mazmur 'Rusa di Kala Fajar' dari Raja David dalam Bahasa Ibrani.

Selama aku memapahnya sesekali dia juga berbisik berat:

"Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan rohku."Perjalanan dari ladang ke biara dengan memapah pemuda ini sungguh membawaku dalam kilasan-kilasan Jalan Salib Kristus, aku serasa menjadi Simon dari Kirene, dan sang ibu adalah seumpama Bunda Maria. Beberapa kali pemuda sakit ini jatuh terantuk bebatuan bukit, yang sering menarikku hingga terhuyung. Sungguh aku dapat merasakan perasaan Simon ketika dia harus memapah Yesus beserta salib-Nya. Kira-kira satu setengah jam kami lalui perjalanan itu dengan tertatih-tatih. Sesampai di halaman biara Romo Pram yang saat itu sedang menyapu halaman melihat kami dan langsung membantuku memapah si pemuda ke serambi tamu.

Romo Pram lalu menanyaiku perihal pemuda yang kupapah tadi,

"Mas Hari, pemuda ini kenapa ?"

"Apa ada perkelahian di bawah bukit ?"

Kupandangi pemuda itu, wajahnya sungguh memelas penuh bekas luka demikian juga punggungnya, penuh luka seperti sisa cambukan. Lalu kujawab pertanyaan Romo Pram,

"Bukan Mo, dia saya temukan di ladang rumput gajah di lereng bukit bersama ibu ini." Jawabku sambil menunjuk ibu tua tadi.

"Bu, istirahatlah di tempat kami."

"Kami akan menyiapkan sekedar bilik kecil untuk ibu dan merawat anak ini." Kata Romo Pram dalam iba, lalu Romo Pram menyuruhku untuk mempersiapkan bilik tamu bagi si ibu dan dia hendak memapah si pemuda kedalam ruang perawatan.

Tiba-tiba ibu tua yang sedari tadi terdiam, menjawab:

"Dia harus selalu di dekat saya Romo, sedikit saja pandangannya agak lama dia tak melihat kehadiran saya dia akan berteriak-teriak dan menangis, bahkan mungkin memberontak dari pegangan."

"Sebaiknya dia selalu di dekat saya."

"Bahkan saya sendiri yang harus memandikan dan menyuapi makan untuknya."

"Dia hanya mengenali saya, Mo."Jelas ibu itu dengan pandangan menerawang.

Mendengar penjelasan ibu itu, Romo Pram hanya bisa melongo dan akhirnya membolehkan si ibu untuk mengikuti ke ruang perawatan. Kemudian aku membantu si ibu memandikan anaknya. Aku persiapkan beberapa peralatan untuk membalut luka, obat anti septik dan dua buntal besar perban untuk mengganti bebatan luka di tangan dan kakinya. Kubuka semua bebatan perban itu dengan rasa penasaran, kiranya luka semacam apa yang tertoreh di situ; seruak kaget menyambangi perasaanku demi melihat kesemua luka itu, empat luka yang menembus telapak tangan dan kakinya menganga di hadapanku. Ahhh, luka-luka mirip luka-luka Salib Kristus. Rasa penasaranku memuncak dan berujung pertanyaan pada si ibu,

"Ini luka karena apa, Bu, kok mirip luka-luka Gusti Yesus ?"

Rupanya si ibu sudah mengamatiku sejak aku membuka luka-luka anaknya, dan dia pun sudah sudah menduga akan pertanyaanku. Senyum getir mengulas di bibirnya yang penuh guratan-guratan derita tanda sedih lalu dia menjawabku,

"Luka-luka itu dibuatnya sendiri, Nak."

"Luka itu bukan anugerah semacam yang terjadi pada Romo Pio atau St. Fransiskus Asisi."

"Dia melukai dirinya sendiri karena ada beberapa peristiwa mengecewakan yang menimpa dirinya."

Aku menjadi tak enak hati mendengar penjelasan ibu ini. Hampir lupa aku berkenalan dengan mereka karena terbuai oleh keheranan atas peristiwa yang baru kualami sejak pagi tadi, lalu kumulai perkenalan dengan permintaan maaf terlebih dahulu,

"Maaf, Bu, sejak dari lereng bukit tadi kita belum berkenalan."

"Nama saya Hariadi."

"Yang menyambut kita di depan tadi adalah Romo Pramono."

"Saya Elisabeth Rukmini."

"Anak saya bernama Ignasius Tejo Sudibyo."

Hari itu aku minta izin kepada koordinator koster dan pastor kepala rumah tangga untuk ikut merawat Ignasius Tejo Sudibyo secara intensif bersama Bu Rukmi. Agak sulit memang memohon izin merawat itu mengingat aku sebenarnya telah dijadwalkan untuk tugas utama memotong rumput gajah selama tiga bulan, namun Bu Rukmi turut memperkuat argumenku bahwa Sudibyo sudah mengenal dan percaya padaku, akhirnya pastor kepala rumah tangga dan koordinator koster memperbolehkanku. Seminggu sudah mereka berdua tinggal di pertapaan ini dan Bu Rukmi memilih Romo Pram menjadi pembimbing rohaninya selama di sini. Pertanyaan-pertanyaan atas rasa penasaranku pada sepasang ibu dan anak ini semakin berat menggelayuti benakku. Pada suatu sore selepas Doa Angelus Domini, aku memberanikan diri untuk bertanya banyak hal pada Bu Rukmi mengenai asal-muasal sakitnya Sudibyo, ketika kebetulan kami bersama-sama bertugas di dapur.

"Maaf, ya Bu, kalau ibu berkenan boleh saya tahu apa penyebab sakitnya Sudibyo ?"

"Mengapa dia sampai dia menyakiti dirinya sendiri sedemikian rupa, Bu ?"

Ibu Rukmi menghentikan sejenak kegiatan membenahi dapur, pandangan yang tadinya tertuju pada peralatan dapur kini berubah menerawang dan bibirnya sedikit tergetar karena seruak kesedihan mencuat di sela-sela ketegarannya.

"Kisah asal muasalnya panjang, Nak."

Lalu Bu Rukmi menarik nafas panjang beberapa kali, dan dua titik air mata meluncur dari sudut-sudut matanya.

"Sakit jiwanya dimulai sejak tiga tahun lalu setelah kematian isterinya yang direnggut oleh penyakit aneh, kata dokter penyakit itu disebut lupus." Sekali lagi Bu Rukmi menghela nafas.

"Tapi penyebabnya adalah bertahun-tahun sebelum itu, sejak masa kecilnya."

"Dia sebenarnya adalah anak adik perempuan saya, Nak, jadi dia sebenarnya keponakan saya."

"Sudibyo adalah anak hasil perkosaan."

Sampai di sini suara Ibu Rukmi menggetar tertelan.

"Suatu hari Ibunya Sudibyo pulang waktu awal fajar dan hari masih remang-remang, setelah dia tugas malam di rumah sakit. Saat itulah terjadilah peristiwa itu di dekat kamar mayat rumah sakit."

"Setelah peristiwa itu dia mengundurkan diri dari rumah sakit dan menjadi sangat pendiam, berdoa pun tidak mau apalagi ke gereja."

"Kesehatannya turun drastis selama mengandung Sudibyo, dan akhirnya meninggal setelah melahirkan."

"Saya dan almarhum suami saya yang memberi nama Tejo Sudibyo dan merawat bayi itu."

Aku tercenung mendengar kisah itu, satu kisah tragis yang tak bisa kubayangkan.

"Selama masa kecilnya Sudibyo banyak mengalami tekanan dari teman-teman sepermainannya dan beberapa guru SD-nya."

Lanjut Ibu Rukmini dalam kegetirannya.

"Dia sering diejek sebagai 'anak haram palang pantek' oleh anak-anak sebayanya."

"Sudibyo kecil tumbuh sebagai anak pendiam, yang membuat kami semakin sayang adalah kemampuan dia menjadikan ejekan teman-temannya sebagai kekuatan untuk maju."

"Nilai-nilainya semasa sekolah dari SD hingga STM tidak pernah turun dari lima besar."

"Namun tetap hati kecilnya merasakan kepahitan yang mendalam, itu dia ungkapkan setelah tiga tahun bekerja, dan di-PHK karena memukuli salah satu rekan kerjanya, hanya karena satu gurauan."

"Kegalauan hatinya akan hidup manis yang dijanjikan Tuhan bagi yang setia kepada-Nya, membawa Sudibyo muda untuk mengikuti pendidikan di seminari."

"Dia lulus sarjana filsafat dan teologi dengan nilai akademis yang cukup tinggi, namun belakangan baru saya tahu jika ordo menahan tahbisan imamatnya, karena mentalnya labil."

Bu Rukmi terdiam cukup lama, tiba-tiba terdengar suara Romo Pram dari luar mengajak kami ibadat malam. Kami bertiga menyiapkan peralatan ibadat untuk malam itu.Seperti biasanya ibadat malam menggunakan darasan lagu gregorian yang selalu mampu mendinginkan hatiku dari memori keseharian yang mencabik-cabik jiwaku, suasana kontemplatif yang selalu terbangun membuatku sering enggan jika ibadat ini selesai.

"Cinta akan rumah-Mu menghanguskan daku !"

"Cinta akan nama-Mu meremukkan daku !"

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari Sudibyo dengan mengerang. Memang sudah tiga hari ini Sudibyo diperbolehkan untuk mengikuti setiap ibadat, setelah dinilai sikapnya yang tidak lagi liar. Malam itu aku dan Bu Rukmi tidak menyelesaikan ibadat malam kami bersama para romo, tapi kami memapah Sudibyo ke kamarnya.

Bu Rukmi berusaha menenangkan Sudibyo yang berkali-kali mengerang dengan teriakan yang sama; berulang-ulang Bu Rukmi mengelus kening dan menciumi kepala Sudibyo. Adegan ibu-anak itu membuatku trenyuh dalam haru dan mengingatkanku pada arca 'Pieta' karya Michelangelo. Kuberanikan diri untuk bertanya lagi tentang Sudibyo kepada Bu Rukmini.

"Bu Rukmi, kok Sudibyo ketika berteriak sering mengutip Kitab Suci ?"

Bu Rukmi lalu melanjutkan kisahnya yang terpotong tadi sore.

"Setelah mundur dari seminari anak saya ini menjadi katekis dan asisten laboratorium."

"Kehidupan Sudibyo biasa saja, namun caranya mengajar agama yang mudah dimengerti seperti seorang pastor pengkhotbah membuatnya banyak disukai dan sangat berharga bagi paroki kami."

"Tiga tahun setelah dia menjadi katekis dia bertemu dengan salah seorang novisiat susteran yang diperbantukan mengajar musik."

"Theresia, panggilannya, nama lengkapnya Theresia Niken Puspandari, singkat kata mereka saling jatuh cinta, dan Theresia keluar dari novisiat lalu mereka menikah."

"Usia pernikahan mereka, hanya satu setengah tahun." Sampai di sini Bu Rukmi tampak tak kuat lagi menahan sedu-sedan tangisannya karena mengenang kisah hidup si anak semata wayang.

"Penyakit aneh yang di sebut lupus itu muncul pada saat Niken atau Theresia menginjak masa kehamilan anak pertama mereka."

"Nyawa Niken beserta bayinya tak tertolong ketika masa melahirkan."

"Sejak saat itu semua keceriaan dan kecerdasan Sudibyo ikut mati bersama kematian isteri dan anaknya."

"Pikirannya jadi seperti hilang setelah peristiwa itu, sering ketika mengajar dia hanya berdiri di depan kelas dalam diam dengan tatapan kosong."

"Akhirnya pastor dan dewan paroki meminta dia beristirahat untuk waktu yang tak ditentukan."

"Perlahan-lahan Sudibyo semakin tenggelam dalam kesedihan; puncaknya adalah ketika dia membuat altar di kamarnya lalu menganyam mahkota duri dari batang pohon bougenville, membuat cambuk kecil dan membawa paku serta martil."

"Selama tiga tahun dia mengurung diri di kamarnya dan makan hanya dua hari sekali itupun harus diletakkan di depan pintu kamarnya."

"Luka-luka paku kaki-tangan yang ada pada tubuhnya dibuatnya tiga bulan yang lalu, ketika hari peringatan Jumat Agung. Sebelumnya dia hanya mengenakan mahkota duri dan mencambuki tubuhnya sendiri." Ungkap Bu Rukmi sembari menghela nafas panjang beberapa kali.

Aku mencoba memahami kisah yang diceritakan Bu Rukmi, namun aku merasa ada kejanggalan dari kisah ini.

"Ibu tidak melarang Sudibyo untuk melakukan hal itu, Bu ?" Tanyaku karena merasa aneh atas sikap Bu Rukmi.

"Aduuh, Nak, saya sudah bekali-kali melarangnya, dan pasti disambut dengan mogok makan, atau berlari-lari keluar tanpa pakaian."

"Ibu sudah membawanya ke psikiater atau RSJ ?" tanyaku penasaran.

"Sudah berkali-kali, Nak, tapi setelah beberapa bulan dia tampak tenang dan sembuh lalu bisa saya bawa pulang, tapi beberapa minggu kemudian kambuh lagi." Jelas Bu Rukmi dengan pandangan menerawang silam. Aku hanya bisa menghela nafas berkali-kali mendengar kisah ini, lalu aku mencoba mengenang kembali jalan hidupku yang membawaku hingga ke sini. Peristiwa yang paling membuat hatiku getir adalah ketika isteriku yang kunikahi secara sakramentali meninggalkanku bersama anak perempuan hasil hubungan gelap dengan pacarnya terdahulu. Aku tidak habis pikir seorang ibu tega meninggalkan anaknya sendiri hanya untuk mengejar kesenangan. Aku menyayangi anak isteriku ini sebagai anak kandungku, Brigita Setyawati namanya, dia sekarang baru menginjak 7 tahun, sekarang dia tinggal bersama ibuku di Ambarawa. Semalaman aku dan Bu Rukmi menemani Sudibyo sembari mohon didoakan oleh Bunda Maria dan Para Kudus demi kesembuhan Sudibyo. Luka-luka bekas paku di kedua tangan dan kaki Sudibyo rupanya tidak juga membaik, luka-lukanya masih sering mengeluarkan darah segar. Keesokan harinya satu kejutan menggembirakan terjadi untukku, ibuku dan anakku Setyawati mengunjungiku.

"Bapaaaaak," teriak Setyawati memanggilku sambil berlari-lari dalam langkah-langkah kecilnya, di tangannya membawa seikat besar rangkaian Bunga Sedap Malam.

Aku berjongkok sambil menanti langkahnya terhenti tepat di depanku, lalu kupeluk erat dan kuciumi dia untuk menumpahkan rasa kangenku selama tiga bulan tidak bertemu dengannya.

Lalu setapak hangat mengusap bahuku, telapak yang telah membesarkanku, dan mengawal hidupku.

"Anakmu kuwi lho, dumeh liburan sekolah nggremeng wae neng kupingku kepingin ketemu kowe (Anakmu itu lho, mentang-mentang liburan sekolah merengek terus di telingaku ingin menemuimu)"

Kuciumi kaki ibuku berkali-kali begitu lama, dan ini baru kulakukan saat itu.

"Le, aja nganeh-anehi kowe ya, umurku isih dawa kok mbok gawe ngene sikilku ? (Nak, kamu jangan aneh-aneh ya, umurku masih panjang kok diperlakukan begini ?)" Sambut ibuku sambil berkelakar dan membangunkanku, lalu kuminta Setyawati meletakkan rangkaian bunga bawaannya di ruang tamu pertapaan.

Kuperkenalkan Ibuku dengan Bu Rukmi dan Sudibyo yang kebetulan saat itu sedang duduk di beranda pertapaan untuk menjemur Sudibyo di bawah matahari pagi.

Ketika melihat Setyawati anakku, Sudibyo tampak sedikit terhenyak matanya mulai tampak menunjukkan kehidupan dan linangan air mata menggenang di matanya. Lalu aku kenalkan Setyawati kepada Bu Rukmi dan Sudibyo, dengan sigap Setyawati menciumi tangan mereka berdua. Tiba-tiba Sudibyo memeluk Setyawati dan menangis,

"Anakkuuu, huhuhu, kemana saja kamu selama ini ?"

Setyawati kaget karena dipeluk oleh Sudibyo sedemikian rupa dan dia pun menangis. Aku mencoba menenangkannya supaya tidak menangis. Selama lima hari Ibuku dan anakku berencana menginap di pertapaan ini atas permohonan Bu Rukmi setelah melihat sikap Sudibyo terhadap Setyawati. Keakraban cepat terjalin antara Sudibyo dan Setyawati, dan kebersamaan mereka perlahan-lahan membawa kesadaran Sudibyo kembali. Setyawati selalu bercerita kepadaku kalau Oom Dibyo pandai mendongeng.

"Tidak seperti Bapak, kalau bercerita jelek,"

ejeknya padaku pada suatu sore. Saat itu Setyawati sedang bersiap mendengarkan dongeng dari Sudibyo yang biasa diceritakannya sambil duduk di lapangan rumput di samping pertapaan. Selama satu sampai dua jam biasanya mereka di sana aku, Bu Rukmi dan ibuku sesekali mengamati mereka berdua.Tiba-tiba terdengar teriakan dan tangisan Setyawati dari lapangan rumput.

"Mbah Putriiiii, Bapaaaaak, Oom Dibyo pingsan !"

Kami bertiga secepatnya berlari menuju lapangan untuk melihat hal yang terjadi. Kami lihat Sudibyo tergeletak dengan posisi tangan terentang, aku lalu mengangkat Sudibyo untuk dibawa ke kamarnya.Di kamar perawatan, Setyawati menceritakan peristiwa yang dialaminya ketika dia didongengi oleh Sudibyo sore tadi.

"Tadi Oom Dibyo menceritakan tentang Tuhan Yesus dan pencuri yang bertobat di salib, lalu dia berteriak Eloi-Eloi Sabakhtani, lalu pingsan," berkisah anakku sambil sesenggukan karena kaget dan sedih.

Kami mencoba membangunkan Sudibyo dari pingsannya, lalu setelah Sudibyo sadar Romo Pram mengambil termometer untuk mengukur suhu tubuhnya karena tampak demam, tapi Sudibyo menepisnya dengan gerakan yang lemah.

"Sekaranglah saat terakhirku bersamamu Ibu."

"Terimakasih untuk anakmu Mas Hari, dia telah mengembalikan tahun-tahunku yang hilang, dia adalah mujizat yang hidup dari Tuhan, bolehkah aku menciumnya untuk terakhir kali ?" Tanya Sudibyo dengan nafas tersengal-sengal.

Kuangkat Setyawati dekat kepala Sudibyo, lalu Sudibyo mengecup kening Setyawati yang masih sesenggukan karena sedih. Bu Rukmi tak sanggup berkata-kata hanya linangan airmata yang menggenangi wajahnya. Belakangan kuketahui dari dokter yang saat itu melakukan kunjungan, rupanya infeksi yang dialami Sudibyo sudah menjalari tubuhnya sedemikian jauh hingga organ dalam tubuhnya. Setelah mencium tangan Bu Rukmi, Sudibyo berucap lemah:

"Sudah selesai."

Lalu Sudibyo menarik nafas panjang, kemudian kepalanya terkulai.

Tangis Bu Rukmi pecah saat itu juga. Sekali lagi kusaksikan adegan 'La Pieta' di sini, dan airmataku tak kuasa kubendung dari jatuhnya.

Malam itu kami lalui dalam larut silensium spontan, setelah melakukan misa requiem untuk Sudibyo. Lalu Romo Pram berbisik kepadaku:

"Pelajaran hidup kali ini Mas Hari, bahwa mujizat itu tidak harus spektakuler, anakmu telah membawa mujizat kesadaran dari Tuhan di hari-hari terakhir Sudibyo."

Pentjerita-pentjerita Goemoel Djiwa

Mengenai Saya

Foto saya
Blog ini merupakan saranaku untuk menuangkan cerita-cerita pendek yang scene-nya melintas di benak saya. Kisah-kisah di sini kudus/suci dari jiplakan/plagiatan/contekan sehingga jika ada kisah yang sama persis dengan yang saya tuliskan bisa dipastikan membajak/menjiplak/memplagiat dari cerpen saya.