Sudah lebih dari duapuluh tahun aku mengelana di padang pasir ini, sehampar padang pasir tanpa tepi. Aku terdampar di sini tepat setelah peringatan hari lahirku yang ke delapanbelas, terpisah dari kedua orang tuaku yang membawa kabilah emas dan kemenyan. Aku terpisah setelah badai pasir yang besar, dan sisa bekalku saat itu hanya tinggal sekantung air dan tiga potong roti khamir. Kususuri ribuan depa setiap lepas fajar hingga hari dipeluk petang selama duapuluh tahun ini, tetapi belum juga kutemui tepi-tepinya. Setiap aku lepas rehat malam esoknya pasti berubah.
Beberapa kali kubertemu musafir lewat dan kutanyai dengan ratapan,”Wahai musafir bijak tunjukkan pada hamba tepi-tepi hampar pembuta mata ini.” Beberapa musafir menjawabku dengan senyum lalu pergi, yang lain menjawabku berurai bunga-bunga kata bersayap hingga membuat mataku berkunang-kunang dan telingaku berdenging-denging, ada pula musafir yang kutanya apa nama padang pasir ini, dan dijawab ‘padang pasir tanpa nama,’ akhirnya aku hanya terduduk lemas memandangi tepi yang bukan tepi.
Setiap terik kucari peneduh yang bukan peneduh, dahaga kuseka air yang bukan air. Duapuluh tahun ini makananku kotoran nazar yang jatuh atau kotoran unta yang tergeletak, minum dari keringatku sendiri dari air kencingku sendiri bila beruntungpun bisa menadah kencing unta, aku telah tak tahu apakah aku ini, aku sudah lelah bertanya siapa aku, menggelandang aku di ceruk-ceruk gersang berharap ada susuan bumi di sana. Ketika kumohon pada Sang Pemilik untuk mematikan aku di kering malam, desau angin menjawabku,”Bodoh ! Kamu sudah mati untuk apa minta mati ?”
Hari ini kususuri lagi bukit-bukit berpasir panas, kujalani dengan telapak kelupas tanpa harap kapan kan lepas, hanya bertepi bayang setitik kuhela seretan langkahku. “Wahai Sang Pemilik Jiwa, jika memang ini alam kematianku, apa salahku ?” kubergumam dalam lunglaiku.
Tak seperti biasanya hari ini, panas membuat kulitku meranggas, lepas sekelupas demi sekelupas, kutersenyum menikmati derita sakit ini, kupikir inilah saatnya Sang Pemilik mengambilku. Hausku yang semakin menusuk kerongkongan semakin meyakinkan aku inilah saatnya Sang Pemilik mencabut sekerat jiwaku, ya, aku bergembira karena makin tingginya takik deritaku . Aku jatuh, nafasku jadi mengetat satu-satu. Semakin ketat nafasku, semakin tenang aku, ya, ini saatnya selesai perjalananku di padang pasir tanpa nama.
Entah berapa lama aku tergeletak, aku siuman lagi, kupincingkan mata berharap teduh surga, tapi tetap silau seperti yang lalu, kuraba tanah harap rumput surga kugenggam, tapi tetap pasir seperti dulu. Aah, ada urai gubah di sini padahal belum pula lepas malam, kulihat luas enam-tujuh depa tanah menghijau di kejauhan seratus depa, berpayung pohon zaitun dan kurma menjulang, “itukah surga ?” gumamku. Kupacu rangkakku dengan setengah jengkal sisa keratan jiwa, harap tipis itulah surga bukan bayang iblis penipu hati.
Kusampai di sana, kuraba tanah rumput, “dingin,” gumamku, kumaju sekuku, “embun,” gumamku lagi. Kujilati rerumputan itu, embun dingin kucecap, suatu rasa dingin dari lebih 20 tahun yang lalu, rasa yang sudah terlupa. Segar yang sudah kulupa menyeruak gelung-gelung kerongkonganku. Kuatku bertambah sepotong demi sepotong, jiwaku menebal selembar demi selembar, “aah, ini surga,”ucapku dalam hati. Berdiri aku terhuyung, langkah tertatih kuingsut maju. “Oooh, oase,” desahku gembira, kuminum berteguk-teguk air oase dihadapanku kupuaskan dahagaku yang tertunda selama 20 tahun. Kenyang air aku, kuhenti sejenak, lalu kutatap pohon kurma di sampingku, seonggok kurma matang berada tepat di sebelah kananku, buah yang tak kutemui selama duapuluh tahun ini. Kukenyangkan laparku yang terlupa serasa beratus abad.
“Puaskah kamu ?” tiba-tiba serenteng kata-kata menghembus seperti angin mendesir telingaku.
”Anginkah kamu ?” tanyaku sembari menengok kiri kanan dan mencari asal-usul kalimat itu.
“Bukan, lihatlah kemari,” kata suara angin itu.
Kutengok sebelah kananku, entah kapan dia datang tiba-tiba sudah berada di bawah pohon kurma. Kuamati sosok itu, sosok yang membuatku terhuyung mundur. Perawakannya sama dengan aku bahkan wajahnya pun plagiat wajahku, tetapi berbeda rona denganku, dia mempunyai rona bahagia sedangkan aku rona pohon wijen kering. Pakaiannya sederhana namun berkilau, ditangannya memegang rebana kecil dan dipinggangnya terselip sebatang seruling dari ranting zaitun.
“Siapakah Anda wahai pemilik oase, hamba mohon maaf telah mengusik tempat Paduka.” Ungkapku sambil bersujud di hadapannya.
“Aku ?” selorohnya, “Aku adalah Aku yang kau lupakan, dan tempat ini adalah tempatmu yang kau singkirkan,” jawabnya pula.
“Maksud Paduka ?” tanyaku tak mengerti ungkapannya yang begitu membingungkan.
Dia lalu memainkan rebana dan bersyair:
“ Sealun nafis berbelas tahun lalu
Kita bersama menggaris hidup
Meniti duka mengais bahagia
(Interlude rebana: tak, tak, tratak tak bam)
Sekuak bilur menebas galau
Menyabit suluh jiwa yang redup
Melepas bimbing rasa terima”
Syairnya begitu gaib, begitu mistis mendebam jantungku, seulas kata demi seulas kata menarikku ke hidup lalu. Dikaitnya aku dengan kekang gaib tak kelihatan, jiwaku terserak di antara jembatan-jembatan waktu, dibantingnya aku ke dalam ceruk-ceruk kekecewaan masa dulu, dilemparnya aku ke atas tumpukan kesedihan lampau. Sakit aku di sana, merana aku diombang-ambingkannya. Tertindih aku di bawah gilas-gilas kegalauan, lalu terpelanting aku kembali ke saat kini.
Limbung, pusing, berdenging-denging telingaku. Sejenak kuhela nafas pendek-memendek, dengus-berdengus hidungku perih. Sekuku demi sekuku sadarku kembali.
“Apa yang kau lihat wahai aku ?” ucapnya lembut menghujam
“Semburat apa yang kau wawas wahai aku ?”
“Kecewa, sedih, galau, merana, lebur.” Jawabku pelan mengerang.
“Itulah badai pasirmu wahai aku,” ucapnya dalam kalimat mencengkeram jiwa.
”Di situ kau tinggalkan Sejatimu wahai aku,”
”Kau lupakan tarian jiwamu yang Kuajarkan wahai aku,”
”Ulasan Paduka memusingkan hamba,” jawabku gulana.
Dia terdiam lalu mengamatiku dengan tatapan mengiris potongan-potongan nadi gaibku. Lalu dia menarik seruling zaitun dari pinggangnya, ditiupnya dengan nada lembut mengalun mistis.
“Wahai sang musafir dalih
Tuntaskah hatimu beralih ?
Kau gusur nyata alihkan angan
Suaikah jiwamu di tepi rangan ?
Lalukan aku simpar ke ceruk jurang
Lontar hasratmu ke buai goda
Terukkan niatmu beradu kata
Keluhmu terali ruji bersarang
Jelai gandum seikat kau buang
Ganti remah lumpur jamban
Pasir-pasir pun kau jerang
Tahi pun kau timang kau emban.”
“Ah, Paduka sakti rupanya, berulah syair di dalam hembusan seruling, maaf, hamba mohon maaf.” Ungkapku dalam ketakziman.
“Wahai sang musafir dungu
Tulikah lorong telingamu ?
Syairku ini isian benakmu
Ulahmu itu lemak galaumu
Wahai sang musafir dungu
Kau lesatkan panah jiwamu
Pisahkan dia dari bimbingKu
Kau kais angan kau buang Aku.”
Melengking kini nada serulingnya bak seorang ibu menjuntaikan amarahnya menghantam degup jantungku. Menarik lagi tulang-tulang atmaku, ditenggelamkannya aku dalam peringatan-peringatan masa berantahku. Remuk isi benakku terburai terkapar-kapar, lalu hilang wawasku.
Sepanjang apa aku tak tahu pingsanku, hari ini bak tak ada malam. Seusap dingin melerai pingsanku, kucuran air mengulas dahi dan bibirku.
“Apa yang kau rasakan wahai aku ?” Tanya Tuan Paduka selepas kembali sadarku.
“Hamba merasakan penolakan.”
“Hamba merasakan ketidaksabaran.”
“Hamba merasakan kesombongan.”
“Hamba merasakan keserakahan.”
“Hamba merasakan kemurkaan.”
“Hamba merasakan ketumpulan hati.” Jawabku berurai air mata.
“Itulah dirimu wahai aku.” Ucapnya berwibawa
“Kau sabungkan Aku dengan ilmu-ilmumu.”
“Rancak kau berucap bak dunia di genggammu.”
“Kau hantamkan benakmu pada dunia semu.”
“Kau lupa menarikan jiwa pengindah cinta”
“Kau fikir gerak sepuluh jarimu cabaran dariKu.”
“Kau fikir benakmu kan fahamkan semua.”
“Itulah kembaramu di tilam pasir tanpa nama,”
“Ohhh, Paduka Mulia sekarang hamba mengerti, hamba mohon beribu maaf Paduka, karena hamba meninggalkan Paduka.” Aku bersujud dan kubenturkan dahiku ke tanah, sesal dalam melibat aku.
“Mari, menarilah kembali bersamaKu.” Ajaknya sembari mengulurkan tangan.
“Kuajari kau dari semula gerak, semula-mula gerak yang kau singkirkan.”
“Berdirilah siapkan lekuk kakimu, angkat kedua tanganmu, sentuh degup jantungmu.”
“Angkat tangan kirimu, rasakan angin membelaimu.” PerintahNya sambil memberiku singkapan-singkapan gerak.
Kucoba mengikuti setiap langkah geraknya, aahh, aneh sepertinya aku dulu pernah melakukannya di zaman entah. Semakin lama semakin mudah aku mengikuti gerakan tariannya, hatiku penuh terisi perasaan senang yang entah darimana.
Mistis, ketika Dia menari di atas tepian pasir oase tiba-tiba tumbuh rumput dari bekas jalinan-jalinan gerak telapak kakinya. Semakin cepat dia menari semakin berimbuh rumput-rumput yang tumbuh, bahkan bunga-bungapun bermekaran ikut menari.
Terdiam aku melihat tariannya, beringsut mundur aku, terduduk heran. Setiap gerak tangannya mendulang angin menyiangi panas dari sejuk, tunas-tunas zaitun dan kurma pun seruak menghijau pupus. Lama aku menikmati tarian mistisnya yang menjaring hingga tepian-tepian gaib.
“Ayolah, mari menari bersamaKu, jangan teronggok disitu !” serunya memerintah.
“Paduka Tuan, saya takjub dengan tarian Paduka yang gaib, menumbuhkan setiap tunas kehidupan dan membangkitkan yang layu.” Seruku takjub tak henti.
“Akankah kau hanya memandangi, wahai aku ?” memerintah pula dia dalam tanya.
“Mari, Kuajari kau menari di atas pasir.”
Kuikuti arahNya ke pasir tepian oase, lalu aku menari lagi bersamaNya di atas pasir. Kutarikan tarianku mengikuti perasaanku, aduh, bukan rumput yang tumbuh di bawah kakiku tetapi onak duri setajam paku berulah di situ. Terpincang-pincang aku, lalu kuhela tarianku.
“Paduka Tuan, hamba tak segaib Paduka.”
“Onak duri yang berulah di bawah telapak kaki hamba.”
“Jangan kau puja amarah, jangan kau puja pedih, jangan kau puja kesenangan, larutkan semua dalam ketulusan.” Ujarnya sambil menari dan tetap tak henti.
Kuulangi lagi tarianku, kuulas setiap rasaku di titian gerak, aahh, inikah maksud Paduka Tuan, dari setiap rasa yang muncul akan meninggikan onak duri, kucoba menari dalam rasa, kucari tulus dalam tiap titian ruang hatiku, kupancarkan untuk melarutkan amarah, pedih dan kesenangan dari gerak tariku. Kumenari lagi, menari lagi dan rasa tulus pun semakin meluas dalam tarianku, kumenari lagi, menari lagi dan onak duri pun berubah rupa menjadi rumput lembut menghijau.
Tulus itu berubah menjadi bahagia dalam tarianku, gerak tanganku menyiangi angin melerai sejuk dari panas, entah aku tak lelah, hanya menari dan menari, seluruh jiwaku menari.
“Kini saatnya kau kembali padaKu wahai aku.” Kata Paduka Tuan, dan tiba-tiba dirinya menjadi cahaya menyilaukan lalu merasuk tubuhku.
Tarianku semakin meluas, kutarikan diriku di atas hamparan pasir tanpa tepi ini dan rumputpun tumbuh di sana, tarianku kutandangkan pula semakin jauh dan bunga-bungapun bermekaran di sana.
Kini angin pun mendendangkan syair bagi tarianku, dan hamparan padang pasirpun semakin menipis. Tak kucari sudah tepi-tepi padang pasir ini karena tepi-tepinya ada dalam jiwaku, karena tepi-tepinya ada dalam hatiku, karena tepi-tepinya ada dalam tarianku.
“Berulah tari wahai jiwa mulia
Singkapkan kira alih kan rasa
Sepulung janji lainkan nyata
Rombakkan rusuh mengilang duka
Tempayan angan pecah berpuing
Guratan kira pucuk berpaling
Ber-angan salah ber-angan benar
Sandungan hati sebabkan nanar.
Pusar hati hanyalah bertulus
Rancak kata rusuhkan benak
Olak murka lantakkan halus
Emban duka rusakkan benak. “
Menarilah aku sepanjang umurku.
TAMAT
Selasa, 22 Juni 2010
Sabtu, 05 Juni 2010
Isteriku, Maaf Aku Mencintai Anakmu. (Sebuah Potret Keluarga Berantakan)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Prolog:
Sepotong kisah sumbang di tengah masyarakat bisa jadi hanya merupakan pucuk 'iceberg' dari kisah-kisah sumbang sejenis yang laten dan bahkan ingin diingkari oleh masyarakat itu sendiri.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tergolek tengkurap aku di atas pembaringan serasa ingin memalingkan seluruh hidupku dari dunia ini, lunglai, malu pada janjiku, seikat janji yang kuikrar untuk isteriku bahwa aku akan memperlakukan Delaneira Gisela Hayuningtyas anak tiriku dari isteriku Joan Margot Kartika tak ubahnya sebagai anak sendiri, telah kulanggar, bahkan dengan senang hati. Tersedan tanpa tangis hanya sesenggukan yang keluar dari mulutku, hari ini telah kulanggar untuk kesekian kali ikrarku pada isteriku.
Tiba-tiba sepasang lengan lembut menggelayut dari belakang, dan tubuh lembut tanpa busana menindihku dari belakang.
“Ayaah…kok nangis sih ?” bisik Gisel – demikian aku memanggilnya – dengan lembut, “Ayah malu ya dengan hubungan kita ?”
Aku hanya mampu meneruskan sedu-sedanku dan dengan lembut Gisel mengusap seluruh air mataku.
“Ayah menyesal karena kita jadi sepasang kekasih ?” Tanya Gisel dengan manjanya.
Aku berbalik pelan, kudekap tubuhnya lalu kuciumi kening dan ubun-ubunnya, ciuman seorang ayah pada anaknya.
“Aku mencintaimu, Yah, lebih dari Mama mencintai dirimu.”
“Coba Ayah lihat sampai larut malam begini Mama belum juga pulang juga.”
Aku hanya mendorong lembut Gisel, “Sudahlah, kamu berpakaian, sana,” perintahku dengan lemah menahan rasa berdosa.
Setelah aku berpakaian, aku menyuruh Gisel untuk tidur supaya besok tidak bangun terlalu siang di Hari Minggu. Kulirik jam dinding di ruang tamu, sudah hampir jam 12 malam dan isteriku belum pulang dari pekerjaannya, di Hari Sabtu ini.
Semenjak Joan dipromosikan menjadi Region Secretary diperusahaannya untuk membawahi wilayah Asia Pasifik 2 tahun lalu perlahan-lahan hubungan kami menjadi dingin. Waktu pertemuan kami menjadi begitu jarang bahkan kami menjadi saling asing, walaupun kami selalu berusaha menyempatkan diri meluangkan waktu untuk berdua.
Kubuat secangkir kopi untuk mengusir kantuk demi menunggui isteriku pulang, lalu kutunggui isteriku di beranda rumah dengan berteman laptop untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda sekaligus berkelana di dunia maya, namun bayangan perbuatanku tadi tak juga hilang dari benakku, Oh Tuhan rasanya ingin lari dan lari.
Bahtera perkawinan kami diawali sejak 8 tahun lalu, Joan adalah seorang janda sekaligus single parent bagi Gisel yang waktu itu baru berusia sembilan tahun. Pertemuan kami diawali dari chatting di internet, dari chatting itu akhirnya kami sepakat bertemu untuk makan malam bersama, suatu candle light dinner. Peristiwa delapan tahun yang lalu di pertemuan pertama kami masih membekas begitu dalam, Joan yang saat itu masih berusia 28 tahun sangat cantik bergaun malam satin warna silver, dengan menggandeng Gisel kecil yang lucu dan manis. Suatu pertemuan yang indah malam itu dan selalu menjadi fokus kekuatan kami mempertahankan ikatan perkawinan hingga detik ini. Perkawinan pertama Joan hanya bertahan selama satu tahun dengan seorang pria berkebangsaan Yunani dan dari perkawinan itu lahirlah Gisel.
Gisel kecil 8 tahun yang lalu begitu mungil dan lincah dengan bibit kecantikan yang sudah tampak, kami berdua cepat akrab karena memang Gisel merindukan sosok ayah yang tak pernah diperolehnya sejak masa kanak-kanak, terlebih lagi Joan, ibunya adalah single parent yang sangat sibuk dan ekstra loyal dengan pekerjaannya, aku memaklumi hal itu karena Joan berbuat seperti itu juga demi kebahagiaan anaknya, seikat keinginan mulia seorang ibu.
Aku sendiri hanyalah seorang bujangan yang sudah cukup umur saat itu, sudah 35 tahun dan belum ada seorang perempuan pun yang sudi menyinggahkan cintaku di hatinya. Beberapa perempuan sebelum bertemu copy darat denganku sangat tertarik dengan pembawaanku menyampaikan pendapat, namun setelah copy darat biasanya mereka langsung menghilang, hanya Joan lah, janda beranak satu yang mau bersamaku menuju pelaminan.
Lima tahun pertama bahtera rumah tangga kami dilalui dengan masa-masa yang manis, bahkan terlalu manis bagiku. Aku hanyalah seorang wiraswastawan di bidang electrical engineering consultant, Joan seorang corporate secretary dan kami mempunyai kelimpahan materi yang bisa dikatakan lebih dari cukup. Waktu luang kami berdua untuk Gisel lumayan intensif. Memang semenjak awal perkawinan kami, akulah yang menjadi baby sitter bagi Gisel karena waktu luangku di rumah jauh lebih banyak. Aku yang memandikan Gisel setiap hari ketika semasa SD, menyiapkan keperluan sekolahnya, mengajarinya mata pelajaran sekolah hingga membacakan dongeng sebelum tidur. Canda tawa akrab Joan dan Gisel selalu menjadi penghiburan tersendiri bagiku untuk melepas kepenatan hari-hariku.
Perubahan besar yang menuju hubungan sumbang ini dimulai ketika bahtera rumah tangga kami menginjak tahun keenam, waktu itu isteriku dipromosikan menjadi region secretary yang membawahi wilayah Asia Pasifik, beban kerjanya yang semakin meningkat sering memaksa isteriku pulang larut malam. Enam bulan semejak isteriku menduduki jabatan barunya, terasa ada yang hilang selepas senja, rumah kami selalu terasa sepi karena tanpa canda tawa seperti dulu. Kami hanya bertiga, aku, Gisel dan Bi Narti pembantu kami. Sering kulihat Gisel selepas belajar memandang keluar jendela melihat kalau-kalau mobil ibunya sudah sampai di depan pagar. Sering aku merasa kasihan padanya, kudekap erat dari belakang sambil sama-sama kami pandangi keluar jendela.
“I missed mom,” keluhnya setiap kali memandangi keluar jendela.
“Aku juga kehilangan ibumu, Nak,” jawabku menimpali keluhnya.
Sering kuciumi ubun-ubunnya untuk sekedar menenangkan hatinya yang gundah. Gisel benar-benar kehilangan momen-momen girl’s talk dengan ibunya. Aku hanya mampu menarik nafas panjang jika melihat Gisel begini.
Aku akhirnya berusaha menempatkan diriku pada posisi Joan, kubeli banyak buku panduan praktis tentang psikologi gadis remaja, fashion, hingga bertanya dengan beberapa psikolog kenalanku. Itu semua demi menutupi lubang emosi yang menganga selama enam bulan lebih, dengan sedikit usaha akhirnya aku mampu menempatkan diriku pada posisi Joan, karena memang kami sudah akrab sebelumnya.
Perlahan Gisel mau menceritakan pengalaman-pengalaman girly-nya di sekolah, tentang cowok-cowok yang tergila-gila padanya, tentang fashion remaja, bahkan sampai hal-hal genital yang paling privasi dari dirinya diceritakannya kepadaku dengan terus terang. Walaupun aku kadang-kadang jengah jika dia bercerita, tapi aku mengingat sudah berniat menggantikan posisi Joan yang hilang.
Di suatu temaram hari yang masih cerah saat-saat senyum surya mulai beranjak undur diri berganti sang dewi malam, saat aku sedang memerah kemampuanku menggali setumpuk buku-buku standar kelistrikan sambil duduk rebahan di sofa, tiba-tiba Gisel melompat menindihku memburaikan semua konsentrasi dan tumpukan buku-buku standarku.
”Sore Ayaaah,” teriaknya ceria, tak seperti biasanya dia begini.
“So..sore, Nak, kok kamu ceria sekali sore ini,” jawabku agak tergagap oleh tingkahnya.
“Aku sekarang tahu siapa yang pantas jadi kekasihku, Yah,” selorohnya gembira.
“Ooh ya, siapa cowok kamu sukai itu, Nak ?” tanyaku menyelidik.
“Emmm, orangnya seumuran dengan Ayah,” katanya sambil menatapku dengan berbinar-binar, dengan tetap menindihku.
“Haahh ! Kamu menyintai oom-oom ?” sergahku karena kaget.
“Iiiihhhh, Ayah diam dulu dong !” sahutnya manja.
“Emmm, orangnya sama tampan dengan Ayah.” Katanya lagi sambil tersenyum kecil.
“Truss, namanya sama dengan Ayah.” Katanya sambil matanya menatapku manja, sebersit tatapan seorang gadis terhadap kekasihnya.
“Aah, mana mungkin yang seperti itu ada, kemungkinannya satu berbanding satu milyar.” Jawabku tak percaya, namun aku masih ingin tahu lebih jauh, siapa tahu Gisel dipelet seseorang setua aku, maklumlah gadis remaja secantik Gisel adalah seperti mawar yang baru mekar, sangat mungkin banyak orang ingin memanfaatkan kecantikannya untuk hal-hal yang tidak senonoh.
“Ayah ingin tahu siapa dan di mana orang itu !” Perintahku pada Gisel dengan nada agak keras.
Perlahan Gisel mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik, “Orangnya ada di bawah tindihanku sekarang,” kemudian dia mencium pipiku.
Aku terkesiap demi mendengar jawabannya yang di luar dugaanku, memang kuakui sebagai laki-laki normal kadang-kadang berdesir minat kelaki-lakianku jika memeluk Gisel. Namun yang benar-benar di luar dugaanku adalah pengakuan Gisel tadi. Tak kunyana Gisel jatuh cinta padaku, tetapi bagaimanapun aku harus tetap bersikap sebagai ayah baginya.
“Gisel anakku, aku ini ayahmu, kok kamu bilang pantas jadi kekasihmu, jangan ngelantur kamu, Nak,” ucapku lembut sambil kukecup kening dan pipinya.
“Ayah bukan ayah kandungku, tapi ayah tiriku kita tidak punya hubungan darah, jadi Ayah boleh menjadi pangeranku ” kata Gisel semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Aku agak memundurkan kepalaku sembari menanyakan maksudnya, ”Kamu dapat pengetahuan salah dari mana, Nak ?” tanyaku sembari mengernyitkan kening karena tak percaya yang kudengar, ”Aku itu suami mamamu, jadi aku ini ayahmu, Giselku yang cantik,” ucapku menjelaskan sambil kugamit hidungnya yang bangir dengan telunjukku, sebentuk hidung Yunani peninggalan ayah kandung Gisel.
“Tadi siang di sekolah aku dapat pelajaran biologi bab genetika, dan dari situ aku tahu jika dua orang tidak mempunyai hubungan darah maka tidak mempunyai sangkutan genetik, dan jika tidak mempunyai hubungan genetik dua orang itu boleh melangsungkan perkawinan, so aku dan Ayah boleh melangsungkan perkawinan,” ungkapnya begitu lugu.
“Aduuuuh, Gisel anakku sebuah lembaga perkawinan tidak semudah dan seempirik ilmu genetika Nak, ada aturan-aturan, ada libatan-libatan emosional, dan masih banyak lagi,” jawabku sembari mengelus wajah cantik Gisel dengan punggung tanganku.
“Ayah…” desah Gisel seperti menanggung sesuatu yang berat.
“Ya, Nak,” jawabku dengan rasa memelas melihat wajahnya yang berubah menjadi sedih.
“Apakah Ayah selama ini bahagia bersama Mama ?” tanya Gisel dengan wajah sayu.
“Ayah bahagia bersama kalian berdua, Nak,” jawabku untuk menenangkan hatinya.
“Tapi aku sekarang tidak bahagia bersama Mama, Yah,” keluh Gisel dengan mata berkaca-kaca, “Mama sekarang begitu asing, tidak pernah lagi mau ngobrol denganku.”
“Mamamu sekarang sibuk berat, Nak, dia kan sekarang mengurusi seluruh kantor cabang di Asia dan Pasifik, jadi wajar kalau sampai di rumah sudah kelelahan.” Ungkapku memberinya pengertian dan ini sudah untuk kesekian kalinya.
“Apa Ayah tidak kesepian ditinggal Mama seperti ini ? Selalu pulang larut malam, apalagi kalau malam Minggu, pasti sampai pagi, ” keluh Gisel semakin dalam.
“Ayah juga merasakan hal yang sama denganmu, Nak,” jawabku.
Kami terdiam sunyi begitu lama, saling tatap dan merasakan sepi yang menyesak begitu dalam karena kehilangan sosok Joan, tak terasa wajah kami semakin mendekat, lalu kupagut bibir Gisel yang ranum dan lembut dan Gisel pun menyambutnya dengan hangat, kami saling melumat dan bergumul layaknya dua orang kekasih dan entah apa lagi yang aku lakukan aku sudah tak ingat apa-apa lagi, semuanya ditarikan oleh instingku dan insting Gisel.
Itulah kali pertama hubungan sumbang kami, hubungan yang seharusnya tetap terjalin sebagai ayah dan anak menjadi hubungan antara dua kekasih. Saat itu pulalah kukhianati ikrarku kepada Joan untuk memperlakukan Gisel sebagai anakku. Hampir satu tahun empat bulan hubungan sumbang ini kami jalani dengan diam-diam dan Gisel pun menjadi pribadi yang periang kembali sebaliknya aku menjadi serba salah walaupun kuakui cintaku sebagai kekasih kepada Gisel menjadi semakin dalam. Gisel kini sudah menginjak bangku perguruan tinggi dan dia mengambil jurusan yang sama denganku, elektro. “Sepasang kekasih harus selalu seiring sejalan, pangeranku,” kata Gisel kepadaku sebelum memutuskan mengambil jurusan elektro.
Tiba-tiba dari luar kudengar suara mesin mobil menuju pagar rumahku, kulirik jam di laptopku sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Pagar kubukakan bagi mobil kantor isteriku, setelah mobil masuk aku bertegur sapa sekedarnya dengan Pak Kirman sopir kantor isteriku. Lalu isteriku keluar mobil dan seperti biasanya kusambut dia dengan kecupan bibir, namun kali ini wajahnya begitu masam dan dia menghindar waktu hendak kukecup.
“Ada apa honey ?” tanyaku.
“Don’t honey, me !!!” bentak Joan kepadaku.
Lalu aku berusaha menggamit tangannya, tetapi Joan mengibaskannya.
“Don’t touch me you’re pathetic bastard, I hate you”, bentaknya lagi.
“You’re betrayer, disgusting !!!” umpat Joan kepadaku, dan aku sudah menduga kemarahannya disebabkan oleh hubunganku dengan Gisel.
“Malam ini kamu tidur di sofa, aku jijik dengan sentuhanmu, sentuhan yang merusak anakku,” teriaknya kalap.
“Sekarang aku capek dan marah mau istirahat, besok pagi kamu dan Gisel harus menghadapku,” perintahnya seperti seorang bos terhadap bawahannya. Joan masuk rumah dengan membanting pintu.
Berdiri aku di halaman rumah memandangi langit jelang pagi yang penuh bintang dalam hati aku mengeluh, dulu aku susah sekali memperoleh pendamping hidup, kini setelah memperolehnya malahan tercerabut menuju jurang kehancuran, oh Tuhan. Pagi itu kulalui dengan perasaan bersalah, marah pada kehidupanku, menyalahkan Joan yang lebih berat pada pekerjaan daripada keluarga semuanya bercampur membuat tidurku tak nyenyak.
Pagi di hari Minggu itu pukul 9:00, kami sudah berkumpul di meja makan, namun suasana pagi itu tak seperti di waktu-waktu lalu. Sunyi terasa mencekat di antara kami, seperti sebentuk gunung yang akan meletus didahului sunyi yang mencekat. Aku dan Gisel lebih banyak menunduk menanggapi tatapan nyalang Joan yang seperti seekor singa betina lapar.
“Bi Nartiiiii, ke sini Bi !” teriak Joan memanggil Narti pembantu kami.
“Ya, Bu saya…” terdengar jawaban Narti sambil tergopoh-gopoh menuju ruang makan.
“Tolong Bi Narti ceritakan, apa yang Bi Narti lihat dari perbuatan Bapak dan Gisel !” perintah Joan kepada Narti dengan suara meradang.
Lalu Narti menceritakan semua hal yang pernah dilihatnya antara aku dan Gisel. Narti menceritakannya dengan takut-takut semua hal yang pernah dilihatnya.
“Nah, Bang sekarang apa maumu ? Kamu sudah tak mungkin mengelak lagi !” tantang Joan kepadaku.
“Ma, semua itu terjadi begitu saja, aku sudah berusaha menghindari perasaan itu, Ma…” jawabku pelan.
“Arrrrggh, bohong kamu Bang !” teriak Joan kalap menyanggah jawabanku.
“Kalau tahu bakal jadi begini aku lebih baik tetap jadi single parent dan tidak menikah denganmu, dasar penjahat kelamin !” teriak Joan lagi.
“Mama stop ! Jangan Mama maki-maki pangeranku seperti itu !” tiba-tiba Gisel berteriak tak kalah kalap dengan ibunya.
“Arrgghh, pangeran katamu ?!” teriak Joan menimpali Gisel.
“Ya, dia pangeranku Ma, selama ini Mama kemana saja haaah ?!”
“Coba, sekarang aku tanya sama Mama, apa jurusanku di perguruan tinggi ?! Tahu enggak Ma ?!”
Joan terdiam ditanyai anaknya, kebingungan harus menjawab apa.
“Enggak, kan ?” sambung Gisel lagi dalam kemarahannya.
“Coba, Mama tahu enggak rangking berapa ketika aku lulus SMA ?”
Joan gelagapan ditanyai Gisel, seperti akan menyanggah tetapi tak tahu apa yang harus disanggah.
“Enggak, kan ?” semakin meninggi nada kemarahan Gisel kepada ibunya.
“Mama mau pakai alasan pekerjaan ? Mama mau pakai alasan tanggung jawab jabatan ? Arrrgghh, ini bukan sinetron, Ma !” Teriak Gisel lagi.
“Ketika aku sedih Ayah menghiburku, lalu Mama kemana ? Ketika aku bertanya banyak hal Ayah menjawabku, lalu Mama di mana ?” sambung Gisel dengan kemarahan seperti air bah melanda ibunya.
“Ketika aku sakit, Mama pergi ke mana ? Australia ? New Zealand ? Thailand?” bertubi-tubi kekecewaan Gisel terhadap ibunya diungkapnya dalam bara kemarahan.
Tiba-tiba tangan Joan meraih gelas disampingnya dan menyiramkan air ke wajah Gisel lalu pergi keluar, dan kudengar suara mesin mobil dihidupkan lalu menjauh.
Kupeluk erat Gisel untuk menenangkan bara amarahnya, kuusap wajahnya yang basah oleh air siraman Joan.
“Ayah…ceraikan Mama, Yah, lalu nikahilah aku,” pinta Gisel lemah dalam sedu-sedan kekecewaannya pada Joan.
Hancur sudah hubungan ibu dan anak ini, akupun ikut merasa sangat bersalah akan hancurnya hubungan mereka berdua. Bagaimanapun juga aku yang merenggut keperawanan Gisel dan aku pasti menikahinya.
“Sayangku, malam pertamamu dulu bersamaku dan ingin kuakhiri malam-malamku selanjutnya bersamamu,” jawabku sembari kukecup bibirnya.
Hari-hari berikutnya kuisi dengan mengurus perceraian di pengadilan dan kantor catatan sipil.
Joan kembali ke rumah lamanya, Gisel lebih memilih indekost di dalam tanggunganku demi menanti usianya genap 18 tahun untuk memenuhi persyaratan hukum layak disebut sebagai cukup dewasa dan mempunyai hak lepas dari kendali ibunya. Aku menyendiri lagi sambil berharap cinta Gisel tak berpaling dariku.
Tamat.
Sepotong kisah sumbang di tengah masyarakat bisa jadi hanya merupakan pucuk 'iceberg' dari kisah-kisah sumbang sejenis yang laten dan bahkan ingin diingkari oleh masyarakat itu sendiri.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tergolek tengkurap aku di atas pembaringan serasa ingin memalingkan seluruh hidupku dari dunia ini, lunglai, malu pada janjiku, seikat janji yang kuikrar untuk isteriku bahwa aku akan memperlakukan Delaneira Gisela Hayuningtyas anak tiriku dari isteriku Joan Margot Kartika tak ubahnya sebagai anak sendiri, telah kulanggar, bahkan dengan senang hati. Tersedan tanpa tangis hanya sesenggukan yang keluar dari mulutku, hari ini telah kulanggar untuk kesekian kali ikrarku pada isteriku.
Tiba-tiba sepasang lengan lembut menggelayut dari belakang, dan tubuh lembut tanpa busana menindihku dari belakang.
“Ayaah…kok nangis sih ?” bisik Gisel – demikian aku memanggilnya – dengan lembut, “Ayah malu ya dengan hubungan kita ?”
Aku hanya mampu meneruskan sedu-sedanku dan dengan lembut Gisel mengusap seluruh air mataku.
“Ayah menyesal karena kita jadi sepasang kekasih ?” Tanya Gisel dengan manjanya.
Aku berbalik pelan, kudekap tubuhnya lalu kuciumi kening dan ubun-ubunnya, ciuman seorang ayah pada anaknya.
“Aku mencintaimu, Yah, lebih dari Mama mencintai dirimu.”
“Coba Ayah lihat sampai larut malam begini Mama belum juga pulang juga.”
Aku hanya mendorong lembut Gisel, “Sudahlah, kamu berpakaian, sana,” perintahku dengan lemah menahan rasa berdosa.
Setelah aku berpakaian, aku menyuruh Gisel untuk tidur supaya besok tidak bangun terlalu siang di Hari Minggu. Kulirik jam dinding di ruang tamu, sudah hampir jam 12 malam dan isteriku belum pulang dari pekerjaannya, di Hari Sabtu ini.
Semenjak Joan dipromosikan menjadi Region Secretary diperusahaannya untuk membawahi wilayah Asia Pasifik 2 tahun lalu perlahan-lahan hubungan kami menjadi dingin. Waktu pertemuan kami menjadi begitu jarang bahkan kami menjadi saling asing, walaupun kami selalu berusaha menyempatkan diri meluangkan waktu untuk berdua.
Kubuat secangkir kopi untuk mengusir kantuk demi menunggui isteriku pulang, lalu kutunggui isteriku di beranda rumah dengan berteman laptop untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda sekaligus berkelana di dunia maya, namun bayangan perbuatanku tadi tak juga hilang dari benakku, Oh Tuhan rasanya ingin lari dan lari.
Bahtera perkawinan kami diawali sejak 8 tahun lalu, Joan adalah seorang janda sekaligus single parent bagi Gisel yang waktu itu baru berusia sembilan tahun. Pertemuan kami diawali dari chatting di internet, dari chatting itu akhirnya kami sepakat bertemu untuk makan malam bersama, suatu candle light dinner. Peristiwa delapan tahun yang lalu di pertemuan pertama kami masih membekas begitu dalam, Joan yang saat itu masih berusia 28 tahun sangat cantik bergaun malam satin warna silver, dengan menggandeng Gisel kecil yang lucu dan manis. Suatu pertemuan yang indah malam itu dan selalu menjadi fokus kekuatan kami mempertahankan ikatan perkawinan hingga detik ini. Perkawinan pertama Joan hanya bertahan selama satu tahun dengan seorang pria berkebangsaan Yunani dan dari perkawinan itu lahirlah Gisel.
Gisel kecil 8 tahun yang lalu begitu mungil dan lincah dengan bibit kecantikan yang sudah tampak, kami berdua cepat akrab karena memang Gisel merindukan sosok ayah yang tak pernah diperolehnya sejak masa kanak-kanak, terlebih lagi Joan, ibunya adalah single parent yang sangat sibuk dan ekstra loyal dengan pekerjaannya, aku memaklumi hal itu karena Joan berbuat seperti itu juga demi kebahagiaan anaknya, seikat keinginan mulia seorang ibu.
Aku sendiri hanyalah seorang bujangan yang sudah cukup umur saat itu, sudah 35 tahun dan belum ada seorang perempuan pun yang sudi menyinggahkan cintaku di hatinya. Beberapa perempuan sebelum bertemu copy darat denganku sangat tertarik dengan pembawaanku menyampaikan pendapat, namun setelah copy darat biasanya mereka langsung menghilang, hanya Joan lah, janda beranak satu yang mau bersamaku menuju pelaminan.
Lima tahun pertama bahtera rumah tangga kami dilalui dengan masa-masa yang manis, bahkan terlalu manis bagiku. Aku hanyalah seorang wiraswastawan di bidang electrical engineering consultant, Joan seorang corporate secretary dan kami mempunyai kelimpahan materi yang bisa dikatakan lebih dari cukup. Waktu luang kami berdua untuk Gisel lumayan intensif. Memang semenjak awal perkawinan kami, akulah yang menjadi baby sitter bagi Gisel karena waktu luangku di rumah jauh lebih banyak. Aku yang memandikan Gisel setiap hari ketika semasa SD, menyiapkan keperluan sekolahnya, mengajarinya mata pelajaran sekolah hingga membacakan dongeng sebelum tidur. Canda tawa akrab Joan dan Gisel selalu menjadi penghiburan tersendiri bagiku untuk melepas kepenatan hari-hariku.
Perubahan besar yang menuju hubungan sumbang ini dimulai ketika bahtera rumah tangga kami menginjak tahun keenam, waktu itu isteriku dipromosikan menjadi region secretary yang membawahi wilayah Asia Pasifik, beban kerjanya yang semakin meningkat sering memaksa isteriku pulang larut malam. Enam bulan semejak isteriku menduduki jabatan barunya, terasa ada yang hilang selepas senja, rumah kami selalu terasa sepi karena tanpa canda tawa seperti dulu. Kami hanya bertiga, aku, Gisel dan Bi Narti pembantu kami. Sering kulihat Gisel selepas belajar memandang keluar jendela melihat kalau-kalau mobil ibunya sudah sampai di depan pagar. Sering aku merasa kasihan padanya, kudekap erat dari belakang sambil sama-sama kami pandangi keluar jendela.
“I missed mom,” keluhnya setiap kali memandangi keluar jendela.
“Aku juga kehilangan ibumu, Nak,” jawabku menimpali keluhnya.
Sering kuciumi ubun-ubunnya untuk sekedar menenangkan hatinya yang gundah. Gisel benar-benar kehilangan momen-momen girl’s talk dengan ibunya. Aku hanya mampu menarik nafas panjang jika melihat Gisel begini.
Aku akhirnya berusaha menempatkan diriku pada posisi Joan, kubeli banyak buku panduan praktis tentang psikologi gadis remaja, fashion, hingga bertanya dengan beberapa psikolog kenalanku. Itu semua demi menutupi lubang emosi yang menganga selama enam bulan lebih, dengan sedikit usaha akhirnya aku mampu menempatkan diriku pada posisi Joan, karena memang kami sudah akrab sebelumnya.
Perlahan Gisel mau menceritakan pengalaman-pengalaman girly-nya di sekolah, tentang cowok-cowok yang tergila-gila padanya, tentang fashion remaja, bahkan sampai hal-hal genital yang paling privasi dari dirinya diceritakannya kepadaku dengan terus terang. Walaupun aku kadang-kadang jengah jika dia bercerita, tapi aku mengingat sudah berniat menggantikan posisi Joan yang hilang.
Di suatu temaram hari yang masih cerah saat-saat senyum surya mulai beranjak undur diri berganti sang dewi malam, saat aku sedang memerah kemampuanku menggali setumpuk buku-buku standar kelistrikan sambil duduk rebahan di sofa, tiba-tiba Gisel melompat menindihku memburaikan semua konsentrasi dan tumpukan buku-buku standarku.
”Sore Ayaaah,” teriaknya ceria, tak seperti biasanya dia begini.
“So..sore, Nak, kok kamu ceria sekali sore ini,” jawabku agak tergagap oleh tingkahnya.
“Aku sekarang tahu siapa yang pantas jadi kekasihku, Yah,” selorohnya gembira.
“Ooh ya, siapa cowok kamu sukai itu, Nak ?” tanyaku menyelidik.
“Emmm, orangnya seumuran dengan Ayah,” katanya sambil menatapku dengan berbinar-binar, dengan tetap menindihku.
“Haahh ! Kamu menyintai oom-oom ?” sergahku karena kaget.
“Iiiihhhh, Ayah diam dulu dong !” sahutnya manja.
“Emmm, orangnya sama tampan dengan Ayah.” Katanya lagi sambil tersenyum kecil.
“Truss, namanya sama dengan Ayah.” Katanya sambil matanya menatapku manja, sebersit tatapan seorang gadis terhadap kekasihnya.
“Aah, mana mungkin yang seperti itu ada, kemungkinannya satu berbanding satu milyar.” Jawabku tak percaya, namun aku masih ingin tahu lebih jauh, siapa tahu Gisel dipelet seseorang setua aku, maklumlah gadis remaja secantik Gisel adalah seperti mawar yang baru mekar, sangat mungkin banyak orang ingin memanfaatkan kecantikannya untuk hal-hal yang tidak senonoh.
“Ayah ingin tahu siapa dan di mana orang itu !” Perintahku pada Gisel dengan nada agak keras.
Perlahan Gisel mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik, “Orangnya ada di bawah tindihanku sekarang,” kemudian dia mencium pipiku.
Aku terkesiap demi mendengar jawabannya yang di luar dugaanku, memang kuakui sebagai laki-laki normal kadang-kadang berdesir minat kelaki-lakianku jika memeluk Gisel. Namun yang benar-benar di luar dugaanku adalah pengakuan Gisel tadi. Tak kunyana Gisel jatuh cinta padaku, tetapi bagaimanapun aku harus tetap bersikap sebagai ayah baginya.
“Gisel anakku, aku ini ayahmu, kok kamu bilang pantas jadi kekasihmu, jangan ngelantur kamu, Nak,” ucapku lembut sambil kukecup kening dan pipinya.
“Ayah bukan ayah kandungku, tapi ayah tiriku kita tidak punya hubungan darah, jadi Ayah boleh menjadi pangeranku ” kata Gisel semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Aku agak memundurkan kepalaku sembari menanyakan maksudnya, ”Kamu dapat pengetahuan salah dari mana, Nak ?” tanyaku sembari mengernyitkan kening karena tak percaya yang kudengar, ”Aku itu suami mamamu, jadi aku ini ayahmu, Giselku yang cantik,” ucapku menjelaskan sambil kugamit hidungnya yang bangir dengan telunjukku, sebentuk hidung Yunani peninggalan ayah kandung Gisel.
“Tadi siang di sekolah aku dapat pelajaran biologi bab genetika, dan dari situ aku tahu jika dua orang tidak mempunyai hubungan darah maka tidak mempunyai sangkutan genetik, dan jika tidak mempunyai hubungan genetik dua orang itu boleh melangsungkan perkawinan, so aku dan Ayah boleh melangsungkan perkawinan,” ungkapnya begitu lugu.
“Aduuuuh, Gisel anakku sebuah lembaga perkawinan tidak semudah dan seempirik ilmu genetika Nak, ada aturan-aturan, ada libatan-libatan emosional, dan masih banyak lagi,” jawabku sembari mengelus wajah cantik Gisel dengan punggung tanganku.
“Ayah…” desah Gisel seperti menanggung sesuatu yang berat.
“Ya, Nak,” jawabku dengan rasa memelas melihat wajahnya yang berubah menjadi sedih.
“Apakah Ayah selama ini bahagia bersama Mama ?” tanya Gisel dengan wajah sayu.
“Ayah bahagia bersama kalian berdua, Nak,” jawabku untuk menenangkan hatinya.
“Tapi aku sekarang tidak bahagia bersama Mama, Yah,” keluh Gisel dengan mata berkaca-kaca, “Mama sekarang begitu asing, tidak pernah lagi mau ngobrol denganku.”
“Mamamu sekarang sibuk berat, Nak, dia kan sekarang mengurusi seluruh kantor cabang di Asia dan Pasifik, jadi wajar kalau sampai di rumah sudah kelelahan.” Ungkapku memberinya pengertian dan ini sudah untuk kesekian kalinya.
“Apa Ayah tidak kesepian ditinggal Mama seperti ini ? Selalu pulang larut malam, apalagi kalau malam Minggu, pasti sampai pagi, ” keluh Gisel semakin dalam.
“Ayah juga merasakan hal yang sama denganmu, Nak,” jawabku.
Kami terdiam sunyi begitu lama, saling tatap dan merasakan sepi yang menyesak begitu dalam karena kehilangan sosok Joan, tak terasa wajah kami semakin mendekat, lalu kupagut bibir Gisel yang ranum dan lembut dan Gisel pun menyambutnya dengan hangat, kami saling melumat dan bergumul layaknya dua orang kekasih dan entah apa lagi yang aku lakukan aku sudah tak ingat apa-apa lagi, semuanya ditarikan oleh instingku dan insting Gisel.
Itulah kali pertama hubungan sumbang kami, hubungan yang seharusnya tetap terjalin sebagai ayah dan anak menjadi hubungan antara dua kekasih. Saat itu pulalah kukhianati ikrarku kepada Joan untuk memperlakukan Gisel sebagai anakku. Hampir satu tahun empat bulan hubungan sumbang ini kami jalani dengan diam-diam dan Gisel pun menjadi pribadi yang periang kembali sebaliknya aku menjadi serba salah walaupun kuakui cintaku sebagai kekasih kepada Gisel menjadi semakin dalam. Gisel kini sudah menginjak bangku perguruan tinggi dan dia mengambil jurusan yang sama denganku, elektro. “Sepasang kekasih harus selalu seiring sejalan, pangeranku,” kata Gisel kepadaku sebelum memutuskan mengambil jurusan elektro.
Tiba-tiba dari luar kudengar suara mesin mobil menuju pagar rumahku, kulirik jam di laptopku sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Pagar kubukakan bagi mobil kantor isteriku, setelah mobil masuk aku bertegur sapa sekedarnya dengan Pak Kirman sopir kantor isteriku. Lalu isteriku keluar mobil dan seperti biasanya kusambut dia dengan kecupan bibir, namun kali ini wajahnya begitu masam dan dia menghindar waktu hendak kukecup.
“Ada apa honey ?” tanyaku.
“Don’t honey, me !!!” bentak Joan kepadaku.
Lalu aku berusaha menggamit tangannya, tetapi Joan mengibaskannya.
“Don’t touch me you’re pathetic bastard, I hate you”, bentaknya lagi.
“You’re betrayer, disgusting !!!” umpat Joan kepadaku, dan aku sudah menduga kemarahannya disebabkan oleh hubunganku dengan Gisel.
“Malam ini kamu tidur di sofa, aku jijik dengan sentuhanmu, sentuhan yang merusak anakku,” teriaknya kalap.
“Sekarang aku capek dan marah mau istirahat, besok pagi kamu dan Gisel harus menghadapku,” perintahnya seperti seorang bos terhadap bawahannya. Joan masuk rumah dengan membanting pintu.
Berdiri aku di halaman rumah memandangi langit jelang pagi yang penuh bintang dalam hati aku mengeluh, dulu aku susah sekali memperoleh pendamping hidup, kini setelah memperolehnya malahan tercerabut menuju jurang kehancuran, oh Tuhan. Pagi itu kulalui dengan perasaan bersalah, marah pada kehidupanku, menyalahkan Joan yang lebih berat pada pekerjaan daripada keluarga semuanya bercampur membuat tidurku tak nyenyak.
Pagi di hari Minggu itu pukul 9:00, kami sudah berkumpul di meja makan, namun suasana pagi itu tak seperti di waktu-waktu lalu. Sunyi terasa mencekat di antara kami, seperti sebentuk gunung yang akan meletus didahului sunyi yang mencekat. Aku dan Gisel lebih banyak menunduk menanggapi tatapan nyalang Joan yang seperti seekor singa betina lapar.
“Bi Nartiiiii, ke sini Bi !” teriak Joan memanggil Narti pembantu kami.
“Ya, Bu saya…” terdengar jawaban Narti sambil tergopoh-gopoh menuju ruang makan.
“Tolong Bi Narti ceritakan, apa yang Bi Narti lihat dari perbuatan Bapak dan Gisel !” perintah Joan kepada Narti dengan suara meradang.
Lalu Narti menceritakan semua hal yang pernah dilihatnya antara aku dan Gisel. Narti menceritakannya dengan takut-takut semua hal yang pernah dilihatnya.
“Nah, Bang sekarang apa maumu ? Kamu sudah tak mungkin mengelak lagi !” tantang Joan kepadaku.
“Ma, semua itu terjadi begitu saja, aku sudah berusaha menghindari perasaan itu, Ma…” jawabku pelan.
“Arrrrggh, bohong kamu Bang !” teriak Joan kalap menyanggah jawabanku.
“Kalau tahu bakal jadi begini aku lebih baik tetap jadi single parent dan tidak menikah denganmu, dasar penjahat kelamin !” teriak Joan lagi.
“Mama stop ! Jangan Mama maki-maki pangeranku seperti itu !” tiba-tiba Gisel berteriak tak kalah kalap dengan ibunya.
“Arrgghh, pangeran katamu ?!” teriak Joan menimpali Gisel.
“Ya, dia pangeranku Ma, selama ini Mama kemana saja haaah ?!”
“Coba, sekarang aku tanya sama Mama, apa jurusanku di perguruan tinggi ?! Tahu enggak Ma ?!”
Joan terdiam ditanyai anaknya, kebingungan harus menjawab apa.
“Enggak, kan ?” sambung Gisel lagi dalam kemarahannya.
“Coba, Mama tahu enggak rangking berapa ketika aku lulus SMA ?”
Joan gelagapan ditanyai Gisel, seperti akan menyanggah tetapi tak tahu apa yang harus disanggah.
“Enggak, kan ?” semakin meninggi nada kemarahan Gisel kepada ibunya.
“Mama mau pakai alasan pekerjaan ? Mama mau pakai alasan tanggung jawab jabatan ? Arrrgghh, ini bukan sinetron, Ma !” Teriak Gisel lagi.
“Ketika aku sedih Ayah menghiburku, lalu Mama kemana ? Ketika aku bertanya banyak hal Ayah menjawabku, lalu Mama di mana ?” sambung Gisel dengan kemarahan seperti air bah melanda ibunya.
“Ketika aku sakit, Mama pergi ke mana ? Australia ? New Zealand ? Thailand?” bertubi-tubi kekecewaan Gisel terhadap ibunya diungkapnya dalam bara kemarahan.
Tiba-tiba tangan Joan meraih gelas disampingnya dan menyiramkan air ke wajah Gisel lalu pergi keluar, dan kudengar suara mesin mobil dihidupkan lalu menjauh.
Kupeluk erat Gisel untuk menenangkan bara amarahnya, kuusap wajahnya yang basah oleh air siraman Joan.
“Ayah…ceraikan Mama, Yah, lalu nikahilah aku,” pinta Gisel lemah dalam sedu-sedan kekecewaannya pada Joan.
Hancur sudah hubungan ibu dan anak ini, akupun ikut merasa sangat bersalah akan hancurnya hubungan mereka berdua. Bagaimanapun juga aku yang merenggut keperawanan Gisel dan aku pasti menikahinya.
“Sayangku, malam pertamamu dulu bersamaku dan ingin kuakhiri malam-malamku selanjutnya bersamamu,” jawabku sembari kukecup bibirnya.
Hari-hari berikutnya kuisi dengan mengurus perceraian di pengadilan dan kantor catatan sipil.
Joan kembali ke rumah lamanya, Gisel lebih memilih indekost di dalam tanggunganku demi menanti usianya genap 18 tahun untuk memenuhi persyaratan hukum layak disebut sebagai cukup dewasa dan mempunyai hak lepas dari kendali ibunya. Aku menyendiri lagi sambil berharap cinta Gisel tak berpaling dariku.
Tamat.
Selasa, 01 Juni 2010
Senin, 31 Mei 2010
Pintar dan Bodoh (Sebuah Cerita Pencerahan)
Suatu hari Guru ruang lo-han Shaolin Selatan di Songsan Sam Cia Lok ingin mencari pengganti guru ruang lo-han karena dia akan naik peringkat. Setelah menguji kanuragan ke 22 muridnya di memperoleh 5 kandidat, kemudian ke 5 kandidat ini diuji dengan hafalan Sangha sutta, Paritta, dan Dhammapada, dari ujian ini dia memperoleh 2 murid yang sama nilainya yaitu Sam Tiat Cien dan Sam Tho Cien. Bingung sang guru memilih siapa di antara kedua muridnya ini yang kelak menjadi penggantinya.
Tak kurang akal si guru mencari cara, kemudian dia masuk ke dapur dan memasak seporsi besar cap cay kemudian membaginya menjadi dua mangkok. Kedua mangkok itu dibagikan kepada kepada kedua kandidat ketua di dua ruang yang berbeda. Setelah kedua murid itu selesai makan si guru mendatangi Sam Tiat Cien lalu bertanya:
"Apa yang kau rasakan setelah makan capcay ?"
"Kenyang guru." jawab Sam Tiat Cien,
si guru pun mengangguk-angguk dan tersenyum lalu pergi m1endatangi murid kedua,
"Apa yang kau rasakan setelah makan capcay ?" tanya si guru,
"Banyak hal guru," jawab Sam Tho Cien.
"Apa saja ?",
"Rasa manis dari swi-ca/kol, renyahnya sim-ca/caisim, empuknya tofu dan semua itu ditingkahi hangatnya bawang putih dan merica serta rasa gurih dari kecap asin." jawab Sam Tho Cien.
Lalu si guru bersabda: "Sam Tho Cien mulai esok kamu adalah penggantiku"
Tak kurang akal si guru mencari cara, kemudian dia masuk ke dapur dan memasak seporsi besar cap cay kemudian membaginya menjadi dua mangkok. Kedua mangkok itu dibagikan kepada kepada kedua kandidat ketua di dua ruang yang berbeda. Setelah kedua murid itu selesai makan si guru mendatangi Sam Tiat Cien lalu bertanya:
"Apa yang kau rasakan setelah makan capcay ?"
"Kenyang guru." jawab Sam Tiat Cien,
si guru pun mengangguk-angguk dan tersenyum lalu pergi m1endatangi murid kedua,
"Apa yang kau rasakan setelah makan capcay ?" tanya si guru,
"Banyak hal guru," jawab Sam Tho Cien.
"Apa saja ?",
"Rasa manis dari swi-ca/kol, renyahnya sim-ca/caisim, empuknya tofu dan semua itu ditingkahi hangatnya bawang putih dan merica serta rasa gurih dari kecap asin." jawab Sam Tho Cien.
Lalu si guru bersabda: "Sam Tho Cien mulai esok kamu adalah penggantiku"
Tidak Percaya (sebuah cerita sufistik)
Seorang pendeta sebuah kuil menemui seorang pertapa di perbukitan Kharm-el (kata Carmel dari sini yang berarti dipingit Tuhan), mereka lalu bertanya jawab.
*Pendeta: 'Apakah anda sedang mencari Tuhan ?'
*Pertapa:'Tidak'
*Pendeta:'Lalu, mengapa Anda di sini ?'
*Pertapa:'karena saya sedang bertapa.'
*Pendeta:'Berarti Anda sedang mencari Tuhan, Anda jangan berbelit-belitlah.'
*Pertapa:'karena saya memang tidak mencari Tuhan.'
*Pendeta:'Apakah Anda percaya akan adanya Tuhan ?'
*Pertapa:'Tidak.'
*Pendeta: 'Anda berarti berbohong !!!! Seseorang bertapa karena percaya pada Tuhan !!!!'
*Pertapa: 'Jika sudah melihat dan merasakan-Nya masihkah perlu meributkan percaya atau tidak percaya ?'
*Pendeta: 'Apakah anda sedang mencari Tuhan ?'
*Pertapa:'Tidak'
*Pendeta:'Lalu, mengapa Anda di sini ?'
*Pertapa:'karena saya sedang bertapa.'
*Pendeta:'Berarti Anda sedang mencari Tuhan, Anda jangan berbelit-belitlah.'
*Pertapa:'karena saya memang tidak mencari Tuhan.'
*Pendeta:'Apakah Anda percaya akan adanya Tuhan ?'
*Pertapa:'Tidak.'
*Pendeta: 'Anda berarti berbohong !!!! Seseorang bertapa karena percaya pada Tuhan !!!!'
*Pertapa: 'Jika sudah melihat dan merasakan-Nya masihkah perlu meributkan percaya atau tidak percaya ?'
Seperti Apa ? (sebuah cerita sufistik)
Seorang pelajar kitab sebuah kuil ditugasi guru pendeta untuk mentobatkan seorang pertapa di Bukit T'abrouk, karena dinilai sesat.
*Pelajar: "Benarkah Bapa bertapa ?
*Pertapa:'Pendapat siapa itu ?'
*Pelajar: 'menurut orang-orang yang pernah ditolong Bapa.'
*Pertapa :'Aku tidak pernah menolong mereka.'
*Pelajar:'Lalu siapa yang menolong mereka ?'
*Pertapa:'mereka ditolong Tuhan.'
*Pelajar:'Berarti Bapa menganggap diri Bapa, Tuhan ?'
*Pertapa:'Tidak.'
*Pelajar:'Lalu mengapa Bapa katakan ditolong Tuhan.'
*Pertapa:'Tuhan menggunakan diriku untuk menolong mereka.'
*Pelajar:'Menurut Bapa Tuhan itu seperti apa ?'
*Pertapa: 'Entahlah.'
*Pelajar:'tetapi menurut berita yang saya dengar Bapa sudah bertemu Tuhan.'
*Pertapa: 'jika kuceritakan Tuhan itu seperti apa, sampai kakimu berakar di sini pun kamu tidak akan mengerti.'
*Pelajar:' Ayolah Bapa ceritakan sedikit pengetahuan Bapa.'
*Pertapa: 'Lihatlah tetanggamu, lihatlah keluargamu lihatlah orang-orang yang kau musuhi, lihatlah jalan hidup mereka, lihatlah dirimu sendiri, lihatlah jalan hidupmu, niscaya suatu saat nanti kamu akan bertemu Tuhan.'
*Pelajar: "Benarkah Bapa bertapa ?
*Pertapa:'Pendapat siapa itu ?'
*Pelajar: 'menurut orang-orang yang pernah ditolong Bapa.'
*Pertapa :'Aku tidak pernah menolong mereka.'
*Pelajar:'Lalu siapa yang menolong mereka ?'
*Pertapa:'mereka ditolong Tuhan.'
*Pelajar:'Berarti Bapa menganggap diri Bapa, Tuhan ?'
*Pertapa:'Tidak.'
*Pelajar:'Lalu mengapa Bapa katakan ditolong Tuhan.'
*Pertapa:'Tuhan menggunakan diriku untuk menolong mereka.'
*Pelajar:'Menurut Bapa Tuhan itu seperti apa ?'
*Pertapa: 'Entahlah.'
*Pelajar:'tetapi menurut berita yang saya dengar Bapa sudah bertemu Tuhan.'
*Pertapa: 'jika kuceritakan Tuhan itu seperti apa, sampai kakimu berakar di sini pun kamu tidak akan mengerti.'
*Pelajar:' Ayolah Bapa ceritakan sedikit pengetahuan Bapa.'
*Pertapa: 'Lihatlah tetanggamu, lihatlah keluargamu lihatlah orang-orang yang kau musuhi, lihatlah jalan hidup mereka, lihatlah dirimu sendiri, lihatlah jalan hidupmu, niscaya suatu saat nanti kamu akan bertemu Tuhan.'
Tuhan, Aku Menantang-Mu
Tak seperti bisanya di akhir minggu ini, aku mampu bangun pagi. Kulirik dengan mata separuh jam beker di samping tilam tidurku, owh pukul 4:30 pagi rupanya, sayup samar kudengar tilawath fajar di surau seberang mengiang irama negeri Arabi. Beranjak bangun dari ringkukku kucoba lompat satu hentakan, ahh Tuhan aku sudah tak muda lagi seperti dahulu ketika mendalami Kung Fu, hanya suara gemeratak saja yang kuhasilkan. Kusiapkan segelas kopi hitam untuk mengusir malasku, lalu kunikmati seusai mandi.
Kunaiki motor Suzuki Smashku yang butut perlahan menuju gereja untuk misa pagi pukul 7:00. Entah mengapa misa pagi ini dibawa dalam suasana Gregorian, mulai dari Kyrie Eleison hingga Agnus Dei, suasana ibadat yang membuatku serasa dalam pelukan hangat Bapa Ilahi. Usai misa aku sedikit bersapa tanya dengan beberapa teman yang kebetulan menghadiri misa pagi itu. Namun aneh, pagi itu aku sungguh enggan menggerakkan kakiku keluar dari pelataran gereja.
Sendiri kududuk di bangku paling belakang sembari memandang singgasana Tabernakel tempat Sang Misteri mahamistis bertahta. Bertahun-tahun benakku bertanya-tanya tentang janji-janji manis Tuhan, bermacam devosi telah kujalani, membalik-balik kisah Ayub di dalam Kitab Suci, hingga menggelandang ke gereja-gereja lain beraliran Protestan Karismatik tapi semua itu nihil. Janji-janji manis akan ‘upah’ kemurnian pada kejujuran, kepedulian, dan kesabaran sampai sekarang belum kucecap sedikitpun. Begitu dalam kutenggelam dalam tuntutanku kepada Tuhan hingga seusap sentuhan telapak hangat tersampir di bahuku, membuyarkan tuntutanku.
“Mas, belum pulang, masih betah di sini ?”
“Oooh, Pak Gudril, pagi Pak, berkah Dalem,” sapaku sembari bersalam erat tangannya.
“Belum Pak, saya tidak tahu mengapa hari ini malas pulang,” jawabku sambil beringsut minggir memberi tempat Pak Gudril untuk duduk di sebelahku.
“Mas, mau menemani saya berdoa Rosario sebentar ?” Tanya Pak Gudril dalam penawaran.
“Emmm, boleh.” Jawabku sedikit terpaksa, karena sebenarnya aku hanya ingin diam saja di situ.
Pak Gudril adalah koster di gereja kami, sebuah gereja di kota kecil yang masuk dalam wilayah Keuskupan Purwokerto. Nama panjangnya adalah Lukas Gudril biasa dipanggil sebagai Pak Lugu, namun aku tetap memanggilnya Pak Gudril, karena nama Gudril memberiku kesan akan keaslian Banyumasan. Pak Gudril, pria bertubuh kurus dengan bahu kiri agak sedikit miring, berambut ikal, berkulit sawo matang gelap, hidung mekar dengan bibir agak tebal, alis tebal dengan ujung-ujung mata yang turun, seraut wajah yang memang jauh dari tampan, terlebih sekarang usianya mendekati 55 tahun, paparan keriputpun menghias di mana-mana.
Usai kami berdoa Rosario Pak Gudril mengundangku ke pondoknya, pondok kosteran.
“Silakan Mas, nikmati klethi’annya, cuma lanting dan peyek kedelai hitam”, ungkap Pak Gudril sambil menyiapkan dua toples berisi lanting warna-warni dan peyek kedelai ukuran besar.
“Hanya teh hangat, Mas, mboten napa-napa nggih (tidak masalah kan) ?” ucap pak Gudril dalam logat Banyumas yang kental membawakanku dua gelas teh hijau dengan kepulan uap yang merangsang penciumanku.
“Mboten napa-napa, Pak. Kula nggih wau enjing sampun ngopi (Tidak masalah, Pak. Saya juga tadi pagi sudah ngopi).” Jawabku dengan logat yang sama.
Kuambil sepotong peyek kedelai yang memang kesukaanku sambil menghirup sedikit kepulan uap teh hijau buatan Pak Gudril. Kukunyah peyek sembari mengamati dekorasi dalam ruang pondok kosteran tempat Pak Gudril, sebentang dekorasi yang sederhana pikirku, mengungkap satu kesahajaan.
“Lagi banyak pikiran, Mas ?”, tanya Pak Gudril memecah perhatianku.
“Yaaa…” sahutku terperanjat mendengar tuduhan Pak Gudril
“Tuhan sering terlihat tidak adil ya, Mas ?” lanjut Pak Gudril sembari menilik tajam ke arah mataku.
“Maksud Bapak ?” tanyaku pura-pura bodoh sambil mencicipi teh hijau yang wanginya aduhai.
“Biasanya orang yang ingin berlama-lama di hadapan Tabernakel sedang menggendong sekarung masalah, Mas,” kata Pak Gudril sambil berkelakar, “Dan pikirannya dipenuhi kalimat-kalimat protes”, lanjutnya lagi dengan wajah serius.
Dalam hati aku bertanya-tanya, siapakah Pak Gudril ini kok kalimatnya bisa tertata apik. Memang benar aku sedang protes kepada Tuhan atas segala kesuraman yang kualami, mulai dari sejak dulu aku sekolah hingga kini sudah menghidupi diri sendiri dengan tertatih-tatih dan entah kapan akan kurengkuh mahligai perkawinan.
“Aahh, Pak Gudril ada-ada saja, saya baik-baik saja kok, Pak.” Kataku dengan senyum yang sangat kupaksakan.
“Saya serius, Mas.” Tegas Pak Gudril dengan mimik wajah mengeras, “Mas, belum berkeluarga bukan ? Mungkin masalah Mas-nya sekitar keuangan, pangkat atau jodoh, umum sekali hal ini” lanjut Pak Gudril dengan tatapan menyelidik.
“Aaah, saya tidak sedang dalam masalah kok, Pak,” jawabku sembari menghindari tatapannya yang menyeruak setiap tepian relung benakku.
“Mas-nya sudah pernah menantang Tuhan ?” Tanya Pak Gudril tegas lurus menghujam seperti sepenggal tombak pusaka menancapi jantungku.
“Aas, aam, aduuuh, Pak, tidak !” jawabku gelagapan, sembari menata hati yang terhujam tombak tanya Pak Gudril.
“Ahaa, berarti Mas-nya, sudah hampir ke titik itu,” tandas Pak Gudril menambah hujaman katanya.
“Baiklah, kalau Mas-nya ndak mau cerita, saya yang akan cerita.” Jawab Pak Gudril lalu terdiam sejenak dan menghela nafas beberapa kali, “Mas, kenal almarhum Pak Tinus yang meninggal satu tahun yang lalu ?” Tanya Pak Gudril sembari mengumpulkan kepingan-kepingan memori.
“Ya, ya, saya ingat koster terlama di gereja ini, kalau tidak salah 30 tahun menjadi koster di sini ya, Pak ?” tanyaku memastikan.
“Dialah yang mengembalikan ‘kekayaan Nabi Ayub’ kepada saya, Mas.” Ungkap Pak Gudril sembari mengambil sebingkai foto bersama mereka berdua.
“Maksud Bapak ?” tanyaku mulai tertarik dengan apa yang dikatakannya.
“Duapuluh tahun yang lalu saya pernah menantang Tuhan, Mas.” Ungkapnya lagi sambil tertunduk menatap lantai, seolah-olah adalah bentang layar kehidupannya.
“Tigapuluh tahun lalu saya adalah pemilik sebuah perusahaan kontraktor engineering, saya bekerja sama sama dengan dua orang kawan. Kami masing-masing mempunyai keahlian yang berbeda, saya dibidang kelistrikan dan instrumentasi sementara dua kawan saya masing-masing di bidang mekanika dan konstruksi sipil.” Jelasnya lagi dengan memejamkan mata dan menghela satu tarikan nafas panjang, menahannya sejenak lalu melepaskannya.
Tak bisa kubayangkan orang dengan perawakan seperti Pak Gudril adalah pemilik perusahaan dan ahli kelistrikan serta instrumentasi, suatu hal yang berbeda jika digambarkan oleh selayar sinetron. Tak bisa kubayangkan pula orang sealim Pak Gudril pernah menantang Tuhan.
“Tigapuluh tahun lalu perusahaan yang saya rintis setelah lulus STM jurusan listrik sudah maju pesat, Mas. Proyek-proyek milyaran rupiah mudah saya dapatkan.” Lanjutnya dengan mata menerawang keluar. ”Saya bersimbah harta ketika orang lain bersimbah keringat, dan itu saya syukuri, waktu itu saya sungguh merasa digendong oleh Tuhan.” Ungkap Pak Gudril dengan rona bahagia mengingat masa-masa itu.
“Saya gunakan uang yang saya miliki untuk menunjukkan status sosial saya kepada lingkungan sekitar, saya beli rumah mewah, dan dua mobil berkelas Eropa, tak lupa saya meminang seorang gadis cantik dan seksi yang menjadi sekretaris saya waktu itu, walau beda agama kami tetap nekat menikah, dan saya menikah menurut tata cara agama isteri saya.” Jelas Pak Gudril sembari menyobeki secarik kertas hingga kecil-kecil seolah-olah itu adalah memori kehidupannya yang tercabik-cabik.
“Sebagai seorang bos, waktu luang saya lumayan banyak dan itu saya gunakan untuk melanjutkan pendidikan saya hingga S1 dan S2, saya mengambil dua jurusan sekaligus instrumentasi elektrik dan psikologi, khusus psikologi saya selesaikan hingga S2 karena saya pikir adalah baik untuk menilai kondisi psikis rival-rival tender saya waktu itu.” Kenangnya seperti tercekat zaman.
“Silakan dinikmati lho, Mas teh dan makanannya, jangan terhanyut dengan kisah saya, Mas.” Kata Pak Gudril memecah konsentrasiku.
“Keadaan berbalik sepuluh tahun kemudian, salah seorang teman sekerja saya tiba-tiba mengundurkan diri dan membuat perusahaan sejenis.” Ungkapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Saya menyetujui karena saya pikir itu hal baik, sebab dia ingin mandiri, tak dinyana ternyata dia mundur sembari membawa uang hasil tender yang terakhir sebesar 8 milyar.” Lanjutnya sambil mengetuk-ngetuk meja dan tampak geram atas perbuatan rekan sekerjanya.
”Tender itu adalah tender terbesar dalam sejarah perusahaan saya Mas, bayangkan Mas, kurs Rupiah terhadap US Dollar saat itu masih dalam kisaran Rp. 4500.00 hingga Rp. 5000.00, bukan main-main” katanya lagi.
“Peristiwa itu membuat saya geram dan meradang bukan kepalang, Mas, orang yang melakukan itu akhirnya saya perkarakan di pengadilan, walaupun dia pernah menjadi kawan seiring saya dan sudah saya anggap sebagai saudara,” ungkapnya sambil menyipitkan mata.
“Kemenangan saya peroleh namun lebih dari separuh uang tender yang kembali habis untuk membayar beberapa pengacara terkenal, padahal proyek harus tetap saya jalankan karena sudah menjadi kontrak,”sekali lagi Pak Gudril menghela nafas seolah-olah membuang sesuatu dari kedalaman hatinya. “Akhirnya saya harus mendekonstruksi tabungan dan asset yang saya miliki demi berjalannya proyek.” Kemudian dia terdiam dengan mata terpejam dan nafas menjadi berat.
Kesunyian kemudian kupecah dengan tanyaku, ”waktu itu Bapak di sini, di kota ini, Pak ?”
“Tidak, Mas, waktu itu saya tinggal di kawasan Pondok Indah, Jakarta selatan.” Jelasnya.
“Ooh, jadi dulu perusahaan Pak Gudril ada di Jakarta to ?” tanyaku untuk memperjelas.
“Benar, Mas, waktu itu industrialisasi sedang digalakkan dengan mengundang investor-investor asing,” lanjut pak Gudril sambil menghirup teh hijau buatannya dan mengambil sejumput lanting.
“Wah, Pak Gudril hebat ya dulu, masih muda sudah punya perusahaan sendiri ck…ck…ck…ck.” Seruku terkagum-kagum, ”Anugerah Tuhan yang besar itu, Pak,” seruku lagi, ”saya saja sampai sekarang masih tertatih-tatih, menggotong hidup saya sendiri, Bapak sudah pernah memiliki perusahaan dengan asset yang sedemikian besar.” Ucapku lagi sembari geleng-geleng kepala.
“Tunggu dulu, Mas, memang sekarang Mas, kerja di mana ?” Tanya Pak Gudril kepadaku sambil sedikit memiringkan kepala.
“Aahh, saya cuma kerja di sebuah perusahaan kecil sebagai teknisi, Pak.” Ungkapku, ”gaji saya hanya sedikit di atas UMR, sementara harga-harga kebutuhan barang sudah di atas itu.” Tambahku lagi.
“Ok, Mas, saya lanjutkan cerita saya lagi, boleh ?” Tanya Pak Gudril untuk memintaku berhenti berkisah.
“Maaf Pak, silakan.” Pintaku dengan rasa tidak enak hati karena telah memotong banyak kisah Pak Gudril.
“wah, tadi sampai di mana ya ?”, Tanya Pak Gudril dengan berkerut kening.
“Sampai Bapak mengeluarkan tabungan dan asset pribadi untuk proyek,” jawabku untuk mengingatkannya.
“Aahh ya, saya menjual rumah mewah saya yang seharga 1,5 milyar dengan setengah harga kemudian saya beli sebuah rumah kelas menengah, saya jual dua mobil Eropa kesayangan saya dan saya gantikan dengan satu mobil Jepang seken.” ungkapnya lalu menghirup sekali lagi tehnya, ”Itu semua untuk menutupi nilai proyek yang harus saya jalankan.”
“Tapi itu semua belum apa-apa, Mas.” Kemudian pandangan Pak Gudril seperti menatap sesuatu yang tak ada, agak lama dia terdiam dan tak terasa dua titik air mata mengembang di sudut-sudut mata Pak Gudril.
“yang paling menyakitkan adalah ketika proyek terakhir itu selesai, isteri saya kabur bersama rekan kerja saya yang lain dengan membawa anak kami satu-satunya yang masih berusia dua tahun beserta sebagian besar tabungan perusahaan dan hanya menyisakan 1,5 juta, dan ternyata anak itu bukan anak saya melainkan anak hasil hubungan gelap isteri saya dengan rekan saya itu, dan itu saya ketahui dari surat pamitnya.” Lanjutnya lagi dengan suara terbata-bata.
“Saya benar-benar jatuh Mas saat itu, uang di tabungan pribadi saya saat itu tinggal 30 juta, padahal saya masih menanggung gaji delapan orang pegawai saya.” Ungkap Pak Gudril dengan suara tertelan.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara berat Romo Siswoyo memanggil Pak Gudril, “Pak Gudril, Pak….sudah menyiapkan kelengkapan misa untuk ke stasi, Pak ?” tiba-tiba Romo Sis – panggilan Romo Siswoyo – yang tinggi besar itu sudah berada di depan pintu pondok kosteran. “Waaah, Mas Hank to…tumben main ke kosteran biasanya setelah misa langsung nginclik pulang,” sapa Romo Sis sembari menggodaku. “Pagi, Romo…” sapaku agak malu-malu dan tidak enak hati karena mengganggu tugas Pak Gudril. “Pagi, juga Mas,…gimana kabar bapak-ibu, sehat to ?”, kata Romo Sis menjawab sapaanku, “Pangestunipun, sehat Mo,” jawabku.
“Semua sudah saya siapkan sejak dari semalam, Mo, tapi kalau ada kekurangan sebaiknya kita periksa bersam-sama.” jawab Pak Gudril kemudian mereka berdua bersama-sama pergi menuju pastoran.
Sepeninggal mereka aku mencoba mengilas balik hidupku. Kukilas hidupku dari semenjak SD, SMP hingga SMA masa-masa penuh kepongahan dan egoisme sebuah romantisme bayi monyet, kemudian kukilas masa-masa di perguruan tinggi yaitu masa-masa pancaroba ketika seorang anak biasa digendong emak-bapaknya harus mulai belajar menata diri, apalagi waktu itu kuliahku lumayan jauh di Kota Semarang. Pada masa kuliah aku masih sangat berpegang teguh pada benteng reputasi kejujuran, sebuah romantisme idealis yang kubawa semenjak SD, romantisme ‘cheat-proof’ atau anti contek-menyontek, walaupun itu sangat menyusahkan jalan hidupku namun aku tetap melakoninya bukan karena janji-janji manis Tuhan melainkan lebih kepada kesombongan intelektual. Apapun itu tetap aku syukuri sekalipun harus mengorbankan IPK dan hampir terkena finalisasi drop-out.
Kukilas kembali setelah aku lulus kuliah, masa ketika aku harus belajar menghidupi diri-sendiri, seuntai dunia kerja. Dunia kerja bukanlah bagian dari dunia dongeng, bukan dunia kontras warna melainkan sebuah dunia dengan penuh warna ‘setengah’ - setengah jujur,setengah curang – suatu hal yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Kadang-kadang aku berpikir seandainya Tuhan sudi mengubah seluruh dunia seperti dunia dongeng mungkin hidup seluruh manusia di muka bumi akan menjadi indah.
Dunia asmara pun bukanlah sebuah tayangan tonil, sinetron ataupun telenovela. Banyak orang membuat kata-kata mutiara tentang cinta-asmara yang menghanyutkan hati, tentang cinta sejati, ketulusan, kesetiaan, dan masih banyak lagi tetapi sangat sedikit yang mampu menjadikannya sebagai jiwa kehidupan kecuali hanya sebagai jiwa bibir pemulas kata, pemulas mimpi-mimpi tak sampai. Banyak kata-kata mutiara asmara merumuskan tentang kesejatian cinta pada sikap hati bukan pada tataran tubuh atau harta, tetapi pengalamanku mengatakan manusia akan tetap mengikuti insting dasarnya, sebuah insting mengenai kenyamanan baik visual maupun sentuhan kenikmatan.
Tak terasa satu setengah jam aku mengilas balik hidupku, dan pertanyaan terakhir yang muncul di benakku, ‘Tuhan, Engkau ada di pihak mana ?’
Kudengar langkah ringan dan cepat Pak Gudril yang kembali menuju pondok kosteran. “Maaf Mas, saya tinggal agak lama, karena harus ada beberapa barang tambahan yang harus dibawa Romo Sis ke stasi,” jelas Pak Gudril kepadaku.
“Tadi sampai di mana ya Mas, cerita saya ?”, tanya Pak Gudril kebingungan akan kisah lampaunya sendiri.
“Sampai Bapak harus membayar sisa gajian delapan orang pegawai Bapak,” jawabku dengan rasa kasihan kepada Pak Gudril yang beranjak renta ini.
“Ooh ya, ya saya ingat,” kata Pak Gudril sambil mengambil posisi duduk.
“Saya menjual sisa bidang tanah yang saya miliki untuk membayar gaji mereka dan biaya permohonan kepailitan ke Dirjen industri,” ungkap Pak Gudril menyambung kisahnya yang terputus, “kemudian saya mencoba melamar kerja di tempat relasi-relasi saya dahulu yang pernah menjadi klien saya, tapi hasilnya nihil mereka kebingungan harus menggaji saya sebesar apa,” lalu Pak Gudril mengambil sebuah buku kartu nama yang sudah sangat lusuh dan ditunjukkannya kepadaku, “Ini Mas, sebagian klien saya tigapuluh tahun lalu.” Banyak nama yang tidak asing dan sangat terkenal di bidang industri pada buku itu. “Mereka selalu mengatakan,’kualifikasi Bapak jauh di atas yang kami butuhkan, maaf kami tidak bisa menerima Bapak,’ itu kata mereka.”
“Kemudian saya mencoba berbalik arah, saya berpikir mungkin saya terlalu banyak berdosa pada lingkungan dan Tuhan sehingga saya bertekad berkarya di bidang sosial, lalu saya mendatangi dewan paroki, saya membuat proposal pengajuan pendirian Balai Latihan Kerja industri, maksud saya adalah dengan mendidik generasi muda gereja yang kurang mampu secara finansial namun berkemauan tinggi akan menjadikan mereka mandiri, tapi…,” cerita Pak Gudril terhenti oleh helaan nafas panjangnya, “di jajaran dewan paroki sendiri duduk beberapa orang yang sebelumnya pernah menjadi pesaing tender saya, dan rupanya bara dendam masih menyala di hati mereka walaupun sering mendoakan … seperti kami pun mau mengampuni orang yang bersalah kepada kami …, akhirnya proposal saya ditolak.” Katanya pula sambil tak sadar meremas-remas peyek yang ada di tangannya.
“Habis sudah kepercayaan saya pada Tuhan dan sesama manusia, itu adalah hari terakhir saya berharap pada Tuhan. Malam itu saya menangis tanpa air mata, tabungan yang semakin menipis hingga tinggal enam juta, ditolak di mana-mana,” tak sadar ujung-ujung mata Pak Gudril mengalir sejalur tipis air mata, “kemudian saya keluar rumah menuju halaman dan saya berteriak,’Heh Tuhan yang buta, tuli dan imbisil jika memang untuk merasakan gendongan-Mu jiwaku harus hitam dan pikiranku harus sesat lebih dahulu, maka mulai esok di titik balik fajar, aku akan menjadi sesat dan hitam, sehitam-hitamnya, ya, aku menantang-Mu !!!’ saya waktu itu seperti kerasukan dan mengacung-acungkan kepalan ke langit” kata Pak Gudril dengan agak berapi-api.
“Keesokan harinya saya mencari seorang mantan staff sales project saya, dan saya minta dikenalkan dengan germo yang dia kenal,” lanjut Pak Gudril sembari menyeka air mata. “Sudah rahasia umum Mas, untuk melancarkan tender proyek harus ada pelicinnya entah itu berupa materi atau wanita, dan itu masuk dalam biaya entertainment,” sekali lagi Pak Gudril menghela nafas. “Dia kaget setengah mati mendengar maksud saya, karena dahulu dia mengenal saya sebagai orang saleh, ’serius nih Pak ?,’ tanya dia waktu itu.”
“Saya menerangkan kesulitan saya padanya dan saya katakan kesalehan adalah makanan orang imbisil.” Lanjut Pak Gudril sembari geleng-geleng kepala mengingat masa itu.
“Lalu dia mengenalkan saya dengan seorang germo kelas tinggi yang bermain di tataran kelas atas, pekerja-pekerja seksnya banyak model kurang terkenal yang biasa digunakan untuk modeling kalender, baik domestik maupun luar negeri seperti dari Uzbekistan yang biasa disebut sebagai ‘kuda putih’ maupun dari daratan RRC dan Thailand.” sekali lagi Pak Gudril menghirup teh hijaunya yang sudah mulai dingin.
“Satu tahun saya menjadi asisten germo, saya jadi mengenal liku-liku dunia hitam pelacuran, saya tahu bagaimana sistem recruitmentnya yang susah-susah gampang, untuk mencari yang domestik agak susah, perlu banyak rayuan jebakan, sedangkan untuk yang dari luar negeri biasanya justeru mereka yang menawarkan diri,” kata Pak Gudril menjelaskan dunia pelacuran.
“Wow…!,” seruku setengah tak percaya.
“Penghasilan saya beranjak cepat, Mas, semenjak menjadi asisten germo, dalam sebulan saya bisa memperoleh antara tigapuluh hingga empatpuluh juta jika sedang ramai.” Lanjutnya dengan pandangan menerawang.
“Setengah tahun kemudian saya berpisah dari bos saya dan mendirikan escort agency sendiri, oh ya escort adalah istilah untuk pelacur high class, Mas.”
“Saya mendirikan agency sendiri karena ketidaksesuaian prinsip dengan mantan bos saya, dia senang menjebak gadis-gadis lugu dengan rayuan, sedangkan saya tidak suka cara itu, saya lebih suka mengatakan apa adanya, dan yang paling saya tekankan adalah rasa ketidaktakutan pada Tuhan, karena itu adalah bagian dari dendam saya waktu itu, saya paling tidak suka jika seorang calon escort lady masih membawa-bawa nama Tuhan.”
“Wah, Pak…aduh !,” seruku sambil geleng-geleng kepala.
“Ya, begitulah Mas, niat saya untuk menjadi sesat waktu itu tidak tanggung-tanggung, tidak suam-suam kuku.”
“Agency saya berkembang pesat karena dipenuhi gadis-gadis yang tulus untuk menjadi sesat, tidak setengah-setengah dan kami pun sepemikiran bahwa kesalehan adalah pekerjaan orang imbisil.”
“Bahkan permintaan dari luar negeri seperti Malaysia, Thailand, bahkan negara-negara timur tengah pun banyak. Agency saya menjadi salah satu favorit mereka.”
“Saya hidup dalam kesenangan duniawi yang tak terbayangkan Mas, waktu itu, bahkan beberapa gadis escort mau jadi simpanan saya.”
“Hufff…!!!” seruku tanpa kata-kata.
“Delapan tahun saya jalani bisnis hitam itu, tapi akhirnya terendus juga oleh intel kepolisian yang memang sudah lama mengincar saya, dan saya dikenai pasal trafficking, kemudian saya di-nusakambangan-kan.”
“Di Nusakambangan saya harus menjalani hukuman selama tiga tahun lima bulan,” kata Pak Gudril dengan mengambil nafas yang cukup dalam.
“Di situlah, dalam keterasingan saya merasakan kekeringan jiwa, saya baru menyadari banyak yang hilang dari diri saya.”
“Satu bulan sekali paroki ini melakukan kunjungan ke Nusakambangan, waktu itu masih Romo Bimo yang menjadi pastor paroki, dan setiap kali saya mengamati misa dari luar ada satu kekuatan luar biasa yang menarik saya dan mendorong saya melakukan kilas balik hidup saya.”
“Setelah tujuh bulan di Nusakambangan, baru saya memberanikan diri menemui Pak Tinus, lalu saya sampaikan maksud saya bertemu Romo Bimo untuk minta sakramen tobat.” Ungkap Pak Gudril sambil meraba dan mengusap-usap foto Pak Tinus.
“Pak Tinus itu seorang sahabat sejati Mas, bahkan senasib sepenanggungan dengan saya, dahulu dia adalah anggota angkatan darat berpangkat letnan, lalu dia difitnah demi kepentingan politik internal dan akhirnya desersi dan menjadi pembunuh bayaran.” Lanjut Pak Gudril dengan mata berkaca-kaca. “Dia menjalani hukuman selama 10 tahun sebagai kriminal di Nusakambangan juga.”
“Pak Tinus selalu berpesan bahwa pintu pondok kosteran terbuka lebar untuk saya jika saya selesai menjalani hukuman.”
“Apakah Bapak setelah selesai menjalani hukuman langsung ke sini, Pak ?” tanyaku ingin tahu.
“Tidak Mas, saya kembali ke Jakarta untuk melihat rumah saya.” Jawab Pak Gudril singkat.
“Kembali ke rumah, saya pikir akan menemui kondisi yang menyedihkan, kotor dan berdebu, tetapi apa yang saya temui membuat saya tercekat dan terjatuh lemas.” Lagi-lagi sejalur airmata turun.
“Rumah saya tetap bersih rapi walaupun di depan berdiri sebuah warung makan kecil yang sangat ramai.”
“Lalu ada suara memanggil saya dari dalam warung, ‘Pak Luk, Pak Luk, saya di sini,’ kemudian saya mendatangi warung dan saya lihat Mbak Sri pembantu saya menyambut dengan wajah gembira.”
“Saya langsung bersujud di kakinya Mas, saya ciumi kakinya seperti saya mencium kaki ibu saya sendiri, sebab dia adalah orang setia kedua setelah ibu saya.”
“Saya tidak bisa membayangkan orang dengan kesetiaan begitu besar menunggui tuannya yang hidupnya bejat sampai masuk penjara, dia sudah mengikuti saya sejak umur tigabelas tahun, sejak saya kaya raya sampai jatuh miskin, lalu ketika saya jadi bejat dia tetap mengikuti saya dalam pengabdian yang diam, akhirnya saya hanya bisa bersujud di kakinya.”
Tiba-tiba dari luar terdengar suara memanggil Pak Gudril, ” Pakne, ki lho dhahar siangmu, pesenmu pete goreng sambel trasi yo tak gawake (Pak, ini lho makan siangmu, permintaanmu pete goreng dan sambal terasi ya saya bawakan), “ suara yang empuk dengan logat khas Jogjakarta yang halus, berbeda dengan logat Banyumasan yang meledak-ledak.
Kulihat seorang ibu paruh baya yang samar-samar sering aku lihat di gereja, seorang ibu dengan badan agak gemuk pendek, wajah biasa saja namun cukup manis.
“Kenalkan Mas, ini isteri saya Yohanna Sri Wilujeng Handayani, dia harta pertama saya yang dikembalikan Tuhan melalui Pak Tinus, inilah orang yang saya ciumi kakinya sepulang saya dari Nusakambangan.”
“Sebulan setelah saya pulang dari Nusakambangan, Pak Tinus mampir ke rumah saya dan kami dijodohkan olehnya.”
“Halaaah Pakne ki crito opo yo, kok ngoyoworo ngene (halah, Bapak ini cerita apa ya, kok aneh-aneh begini),” sergah Bu Gudril malu-malu.
“Saya pilihkan nama baptis Yohanna untuk dia karena dialah yang telah membaptis kembali kehidupan saya yang penuh kebejatan, Mas.”
“Harta kedua yang dikembalikan Tuhan melalui Almarhum Pak Tinus adalah kepercayaan diri saya akan kemampuan saya dahulu di bidang engineering, dialah yang mengusahakan saya bisa mengajar di STM yayasan sebagai guru laboratorium.” Kata Pak Gudril sembari menunjuk bangunan STM yang berada persis di samping gereja.
“Saya memang tidak kembali sekaya dahulu, tapi sekarang inilah saya menemukan ketenangan hidup saya, terlebih anak adopsi saya sekarang juga sudah melanjutkan ke seminari menengah di Mertoyudan, saya sudah merasa memperoleh lebih dari cukup semua pemberian Tuhan ini, Mas.”
Ajakan Pak Gudril untuk makan siang bersama aku tolak, karena ibu di rumah pasti sudah masak untuk porsi keluarga dan aku tak mau mengecewakan dia. Aku pulang dengan bermacam-macam perasaan, dan hanya satu kesimpulanku Tuhan memang penuh misteri.
Tamat.
(Cerpen ini dipersembahkan untuk Romo Mikhael Sheko Pr. Pastor Paroki Gereja St. Lukas, Pemalang Jawa Tengah)
Catatan:
-Cerpen ini diramu dari pengalaman beberapa orang sejak 25 tahun yang lalu, termasuk pengalaman hidupku.
Kunaiki motor Suzuki Smashku yang butut perlahan menuju gereja untuk misa pagi pukul 7:00. Entah mengapa misa pagi ini dibawa dalam suasana Gregorian, mulai dari Kyrie Eleison hingga Agnus Dei, suasana ibadat yang membuatku serasa dalam pelukan hangat Bapa Ilahi. Usai misa aku sedikit bersapa tanya dengan beberapa teman yang kebetulan menghadiri misa pagi itu. Namun aneh, pagi itu aku sungguh enggan menggerakkan kakiku keluar dari pelataran gereja.
Sendiri kududuk di bangku paling belakang sembari memandang singgasana Tabernakel tempat Sang Misteri mahamistis bertahta. Bertahun-tahun benakku bertanya-tanya tentang janji-janji manis Tuhan, bermacam devosi telah kujalani, membalik-balik kisah Ayub di dalam Kitab Suci, hingga menggelandang ke gereja-gereja lain beraliran Protestan Karismatik tapi semua itu nihil. Janji-janji manis akan ‘upah’ kemurnian pada kejujuran, kepedulian, dan kesabaran sampai sekarang belum kucecap sedikitpun. Begitu dalam kutenggelam dalam tuntutanku kepada Tuhan hingga seusap sentuhan telapak hangat tersampir di bahuku, membuyarkan tuntutanku.
“Mas, belum pulang, masih betah di sini ?”
“Oooh, Pak Gudril, pagi Pak, berkah Dalem,” sapaku sembari bersalam erat tangannya.
“Belum Pak, saya tidak tahu mengapa hari ini malas pulang,” jawabku sambil beringsut minggir memberi tempat Pak Gudril untuk duduk di sebelahku.
“Mas, mau menemani saya berdoa Rosario sebentar ?” Tanya Pak Gudril dalam penawaran.
“Emmm, boleh.” Jawabku sedikit terpaksa, karena sebenarnya aku hanya ingin diam saja di situ.
Pak Gudril adalah koster di gereja kami, sebuah gereja di kota kecil yang masuk dalam wilayah Keuskupan Purwokerto. Nama panjangnya adalah Lukas Gudril biasa dipanggil sebagai Pak Lugu, namun aku tetap memanggilnya Pak Gudril, karena nama Gudril memberiku kesan akan keaslian Banyumasan. Pak Gudril, pria bertubuh kurus dengan bahu kiri agak sedikit miring, berambut ikal, berkulit sawo matang gelap, hidung mekar dengan bibir agak tebal, alis tebal dengan ujung-ujung mata yang turun, seraut wajah yang memang jauh dari tampan, terlebih sekarang usianya mendekati 55 tahun, paparan keriputpun menghias di mana-mana.
Usai kami berdoa Rosario Pak Gudril mengundangku ke pondoknya, pondok kosteran.
“Silakan Mas, nikmati klethi’annya, cuma lanting dan peyek kedelai hitam”, ungkap Pak Gudril sambil menyiapkan dua toples berisi lanting warna-warni dan peyek kedelai ukuran besar.
“Hanya teh hangat, Mas, mboten napa-napa nggih (tidak masalah kan) ?” ucap pak Gudril dalam logat Banyumas yang kental membawakanku dua gelas teh hijau dengan kepulan uap yang merangsang penciumanku.
“Mboten napa-napa, Pak. Kula nggih wau enjing sampun ngopi (Tidak masalah, Pak. Saya juga tadi pagi sudah ngopi).” Jawabku dengan logat yang sama.
Kuambil sepotong peyek kedelai yang memang kesukaanku sambil menghirup sedikit kepulan uap teh hijau buatan Pak Gudril. Kukunyah peyek sembari mengamati dekorasi dalam ruang pondok kosteran tempat Pak Gudril, sebentang dekorasi yang sederhana pikirku, mengungkap satu kesahajaan.
“Lagi banyak pikiran, Mas ?”, tanya Pak Gudril memecah perhatianku.
“Yaaa…” sahutku terperanjat mendengar tuduhan Pak Gudril
“Tuhan sering terlihat tidak adil ya, Mas ?” lanjut Pak Gudril sembari menilik tajam ke arah mataku.
“Maksud Bapak ?” tanyaku pura-pura bodoh sambil mencicipi teh hijau yang wanginya aduhai.
“Biasanya orang yang ingin berlama-lama di hadapan Tabernakel sedang menggendong sekarung masalah, Mas,” kata Pak Gudril sambil berkelakar, “Dan pikirannya dipenuhi kalimat-kalimat protes”, lanjutnya lagi dengan wajah serius.
Dalam hati aku bertanya-tanya, siapakah Pak Gudril ini kok kalimatnya bisa tertata apik. Memang benar aku sedang protes kepada Tuhan atas segala kesuraman yang kualami, mulai dari sejak dulu aku sekolah hingga kini sudah menghidupi diri sendiri dengan tertatih-tatih dan entah kapan akan kurengkuh mahligai perkawinan.
“Aahh, Pak Gudril ada-ada saja, saya baik-baik saja kok, Pak.” Kataku dengan senyum yang sangat kupaksakan.
“Saya serius, Mas.” Tegas Pak Gudril dengan mimik wajah mengeras, “Mas, belum berkeluarga bukan ? Mungkin masalah Mas-nya sekitar keuangan, pangkat atau jodoh, umum sekali hal ini” lanjut Pak Gudril dengan tatapan menyelidik.
“Aaah, saya tidak sedang dalam masalah kok, Pak,” jawabku sembari menghindari tatapannya yang menyeruak setiap tepian relung benakku.
“Mas-nya sudah pernah menantang Tuhan ?” Tanya Pak Gudril tegas lurus menghujam seperti sepenggal tombak pusaka menancapi jantungku.
“Aas, aam, aduuuh, Pak, tidak !” jawabku gelagapan, sembari menata hati yang terhujam tombak tanya Pak Gudril.
“Ahaa, berarti Mas-nya, sudah hampir ke titik itu,” tandas Pak Gudril menambah hujaman katanya.
“Baiklah, kalau Mas-nya ndak mau cerita, saya yang akan cerita.” Jawab Pak Gudril lalu terdiam sejenak dan menghela nafas beberapa kali, “Mas, kenal almarhum Pak Tinus yang meninggal satu tahun yang lalu ?” Tanya Pak Gudril sembari mengumpulkan kepingan-kepingan memori.
“Ya, ya, saya ingat koster terlama di gereja ini, kalau tidak salah 30 tahun menjadi koster di sini ya, Pak ?” tanyaku memastikan.
“Dialah yang mengembalikan ‘kekayaan Nabi Ayub’ kepada saya, Mas.” Ungkap Pak Gudril sembari mengambil sebingkai foto bersama mereka berdua.
“Maksud Bapak ?” tanyaku mulai tertarik dengan apa yang dikatakannya.
“Duapuluh tahun yang lalu saya pernah menantang Tuhan, Mas.” Ungkapnya lagi sambil tertunduk menatap lantai, seolah-olah adalah bentang layar kehidupannya.
“Tigapuluh tahun lalu saya adalah pemilik sebuah perusahaan kontraktor engineering, saya bekerja sama sama dengan dua orang kawan. Kami masing-masing mempunyai keahlian yang berbeda, saya dibidang kelistrikan dan instrumentasi sementara dua kawan saya masing-masing di bidang mekanika dan konstruksi sipil.” Jelasnya lagi dengan memejamkan mata dan menghela satu tarikan nafas panjang, menahannya sejenak lalu melepaskannya.
Tak bisa kubayangkan orang dengan perawakan seperti Pak Gudril adalah pemilik perusahaan dan ahli kelistrikan serta instrumentasi, suatu hal yang berbeda jika digambarkan oleh selayar sinetron. Tak bisa kubayangkan pula orang sealim Pak Gudril pernah menantang Tuhan.
“Tigapuluh tahun lalu perusahaan yang saya rintis setelah lulus STM jurusan listrik sudah maju pesat, Mas. Proyek-proyek milyaran rupiah mudah saya dapatkan.” Lanjutnya dengan mata menerawang keluar. ”Saya bersimbah harta ketika orang lain bersimbah keringat, dan itu saya syukuri, waktu itu saya sungguh merasa digendong oleh Tuhan.” Ungkap Pak Gudril dengan rona bahagia mengingat masa-masa itu.
“Saya gunakan uang yang saya miliki untuk menunjukkan status sosial saya kepada lingkungan sekitar, saya beli rumah mewah, dan dua mobil berkelas Eropa, tak lupa saya meminang seorang gadis cantik dan seksi yang menjadi sekretaris saya waktu itu, walau beda agama kami tetap nekat menikah, dan saya menikah menurut tata cara agama isteri saya.” Jelas Pak Gudril sembari menyobeki secarik kertas hingga kecil-kecil seolah-olah itu adalah memori kehidupannya yang tercabik-cabik.
“Sebagai seorang bos, waktu luang saya lumayan banyak dan itu saya gunakan untuk melanjutkan pendidikan saya hingga S1 dan S2, saya mengambil dua jurusan sekaligus instrumentasi elektrik dan psikologi, khusus psikologi saya selesaikan hingga S2 karena saya pikir adalah baik untuk menilai kondisi psikis rival-rival tender saya waktu itu.” Kenangnya seperti tercekat zaman.
“Silakan dinikmati lho, Mas teh dan makanannya, jangan terhanyut dengan kisah saya, Mas.” Kata Pak Gudril memecah konsentrasiku.
“Keadaan berbalik sepuluh tahun kemudian, salah seorang teman sekerja saya tiba-tiba mengundurkan diri dan membuat perusahaan sejenis.” Ungkapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Saya menyetujui karena saya pikir itu hal baik, sebab dia ingin mandiri, tak dinyana ternyata dia mundur sembari membawa uang hasil tender yang terakhir sebesar 8 milyar.” Lanjutnya sambil mengetuk-ngetuk meja dan tampak geram atas perbuatan rekan sekerjanya.
”Tender itu adalah tender terbesar dalam sejarah perusahaan saya Mas, bayangkan Mas, kurs Rupiah terhadap US Dollar saat itu masih dalam kisaran Rp. 4500.00 hingga Rp. 5000.00, bukan main-main” katanya lagi.
“Peristiwa itu membuat saya geram dan meradang bukan kepalang, Mas, orang yang melakukan itu akhirnya saya perkarakan di pengadilan, walaupun dia pernah menjadi kawan seiring saya dan sudah saya anggap sebagai saudara,” ungkapnya sambil menyipitkan mata.
“Kemenangan saya peroleh namun lebih dari separuh uang tender yang kembali habis untuk membayar beberapa pengacara terkenal, padahal proyek harus tetap saya jalankan karena sudah menjadi kontrak,”sekali lagi Pak Gudril menghela nafas seolah-olah membuang sesuatu dari kedalaman hatinya. “Akhirnya saya harus mendekonstruksi tabungan dan asset yang saya miliki demi berjalannya proyek.” Kemudian dia terdiam dengan mata terpejam dan nafas menjadi berat.
Kesunyian kemudian kupecah dengan tanyaku, ”waktu itu Bapak di sini, di kota ini, Pak ?”
“Tidak, Mas, waktu itu saya tinggal di kawasan Pondok Indah, Jakarta selatan.” Jelasnya.
“Ooh, jadi dulu perusahaan Pak Gudril ada di Jakarta to ?” tanyaku untuk memperjelas.
“Benar, Mas, waktu itu industrialisasi sedang digalakkan dengan mengundang investor-investor asing,” lanjut pak Gudril sambil menghirup teh hijau buatannya dan mengambil sejumput lanting.
“Wah, Pak Gudril hebat ya dulu, masih muda sudah punya perusahaan sendiri ck…ck…ck…ck.” Seruku terkagum-kagum, ”Anugerah Tuhan yang besar itu, Pak,” seruku lagi, ”saya saja sampai sekarang masih tertatih-tatih, menggotong hidup saya sendiri, Bapak sudah pernah memiliki perusahaan dengan asset yang sedemikian besar.” Ucapku lagi sembari geleng-geleng kepala.
“Tunggu dulu, Mas, memang sekarang Mas, kerja di mana ?” Tanya Pak Gudril kepadaku sambil sedikit memiringkan kepala.
“Aahh, saya cuma kerja di sebuah perusahaan kecil sebagai teknisi, Pak.” Ungkapku, ”gaji saya hanya sedikit di atas UMR, sementara harga-harga kebutuhan barang sudah di atas itu.” Tambahku lagi.
“Ok, Mas, saya lanjutkan cerita saya lagi, boleh ?” Tanya Pak Gudril untuk memintaku berhenti berkisah.
“Maaf Pak, silakan.” Pintaku dengan rasa tidak enak hati karena telah memotong banyak kisah Pak Gudril.
“wah, tadi sampai di mana ya ?”, Tanya Pak Gudril dengan berkerut kening.
“Sampai Bapak mengeluarkan tabungan dan asset pribadi untuk proyek,” jawabku untuk mengingatkannya.
“Aahh ya, saya menjual rumah mewah saya yang seharga 1,5 milyar dengan setengah harga kemudian saya beli sebuah rumah kelas menengah, saya jual dua mobil Eropa kesayangan saya dan saya gantikan dengan satu mobil Jepang seken.” ungkapnya lalu menghirup sekali lagi tehnya, ”Itu semua untuk menutupi nilai proyek yang harus saya jalankan.”
“Tapi itu semua belum apa-apa, Mas.” Kemudian pandangan Pak Gudril seperti menatap sesuatu yang tak ada, agak lama dia terdiam dan tak terasa dua titik air mata mengembang di sudut-sudut mata Pak Gudril.
“yang paling menyakitkan adalah ketika proyek terakhir itu selesai, isteri saya kabur bersama rekan kerja saya yang lain dengan membawa anak kami satu-satunya yang masih berusia dua tahun beserta sebagian besar tabungan perusahaan dan hanya menyisakan 1,5 juta, dan ternyata anak itu bukan anak saya melainkan anak hasil hubungan gelap isteri saya dengan rekan saya itu, dan itu saya ketahui dari surat pamitnya.” Lanjutnya lagi dengan suara terbata-bata.
“Saya benar-benar jatuh Mas saat itu, uang di tabungan pribadi saya saat itu tinggal 30 juta, padahal saya masih menanggung gaji delapan orang pegawai saya.” Ungkap Pak Gudril dengan suara tertelan.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara berat Romo Siswoyo memanggil Pak Gudril, “Pak Gudril, Pak….sudah menyiapkan kelengkapan misa untuk ke stasi, Pak ?” tiba-tiba Romo Sis – panggilan Romo Siswoyo – yang tinggi besar itu sudah berada di depan pintu pondok kosteran. “Waaah, Mas Hank to…tumben main ke kosteran biasanya setelah misa langsung nginclik pulang,” sapa Romo Sis sembari menggodaku. “Pagi, Romo…” sapaku agak malu-malu dan tidak enak hati karena mengganggu tugas Pak Gudril. “Pagi, juga Mas,…gimana kabar bapak-ibu, sehat to ?”, kata Romo Sis menjawab sapaanku, “Pangestunipun, sehat Mo,” jawabku.
“Semua sudah saya siapkan sejak dari semalam, Mo, tapi kalau ada kekurangan sebaiknya kita periksa bersam-sama.” jawab Pak Gudril kemudian mereka berdua bersama-sama pergi menuju pastoran.
Sepeninggal mereka aku mencoba mengilas balik hidupku. Kukilas hidupku dari semenjak SD, SMP hingga SMA masa-masa penuh kepongahan dan egoisme sebuah romantisme bayi monyet, kemudian kukilas masa-masa di perguruan tinggi yaitu masa-masa pancaroba ketika seorang anak biasa digendong emak-bapaknya harus mulai belajar menata diri, apalagi waktu itu kuliahku lumayan jauh di Kota Semarang. Pada masa kuliah aku masih sangat berpegang teguh pada benteng reputasi kejujuran, sebuah romantisme idealis yang kubawa semenjak SD, romantisme ‘cheat-proof’ atau anti contek-menyontek, walaupun itu sangat menyusahkan jalan hidupku namun aku tetap melakoninya bukan karena janji-janji manis Tuhan melainkan lebih kepada kesombongan intelektual. Apapun itu tetap aku syukuri sekalipun harus mengorbankan IPK dan hampir terkena finalisasi drop-out.
Kukilas kembali setelah aku lulus kuliah, masa ketika aku harus belajar menghidupi diri-sendiri, seuntai dunia kerja. Dunia kerja bukanlah bagian dari dunia dongeng, bukan dunia kontras warna melainkan sebuah dunia dengan penuh warna ‘setengah’ - setengah jujur,setengah curang – suatu hal yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Kadang-kadang aku berpikir seandainya Tuhan sudi mengubah seluruh dunia seperti dunia dongeng mungkin hidup seluruh manusia di muka bumi akan menjadi indah.
Dunia asmara pun bukanlah sebuah tayangan tonil, sinetron ataupun telenovela. Banyak orang membuat kata-kata mutiara tentang cinta-asmara yang menghanyutkan hati, tentang cinta sejati, ketulusan, kesetiaan, dan masih banyak lagi tetapi sangat sedikit yang mampu menjadikannya sebagai jiwa kehidupan kecuali hanya sebagai jiwa bibir pemulas kata, pemulas mimpi-mimpi tak sampai. Banyak kata-kata mutiara asmara merumuskan tentang kesejatian cinta pada sikap hati bukan pada tataran tubuh atau harta, tetapi pengalamanku mengatakan manusia akan tetap mengikuti insting dasarnya, sebuah insting mengenai kenyamanan baik visual maupun sentuhan kenikmatan.
Tak terasa satu setengah jam aku mengilas balik hidupku, dan pertanyaan terakhir yang muncul di benakku, ‘Tuhan, Engkau ada di pihak mana ?’
Kudengar langkah ringan dan cepat Pak Gudril yang kembali menuju pondok kosteran. “Maaf Mas, saya tinggal agak lama, karena harus ada beberapa barang tambahan yang harus dibawa Romo Sis ke stasi,” jelas Pak Gudril kepadaku.
“Tadi sampai di mana ya Mas, cerita saya ?”, tanya Pak Gudril kebingungan akan kisah lampaunya sendiri.
“Sampai Bapak harus membayar sisa gajian delapan orang pegawai Bapak,” jawabku dengan rasa kasihan kepada Pak Gudril yang beranjak renta ini.
“Ooh ya, ya saya ingat,” kata Pak Gudril sambil mengambil posisi duduk.
“Saya menjual sisa bidang tanah yang saya miliki untuk membayar gaji mereka dan biaya permohonan kepailitan ke Dirjen industri,” ungkap Pak Gudril menyambung kisahnya yang terputus, “kemudian saya mencoba melamar kerja di tempat relasi-relasi saya dahulu yang pernah menjadi klien saya, tapi hasilnya nihil mereka kebingungan harus menggaji saya sebesar apa,” lalu Pak Gudril mengambil sebuah buku kartu nama yang sudah sangat lusuh dan ditunjukkannya kepadaku, “Ini Mas, sebagian klien saya tigapuluh tahun lalu.” Banyak nama yang tidak asing dan sangat terkenal di bidang industri pada buku itu. “Mereka selalu mengatakan,’kualifikasi Bapak jauh di atas yang kami butuhkan, maaf kami tidak bisa menerima Bapak,’ itu kata mereka.”
“Kemudian saya mencoba berbalik arah, saya berpikir mungkin saya terlalu banyak berdosa pada lingkungan dan Tuhan sehingga saya bertekad berkarya di bidang sosial, lalu saya mendatangi dewan paroki, saya membuat proposal pengajuan pendirian Balai Latihan Kerja industri, maksud saya adalah dengan mendidik generasi muda gereja yang kurang mampu secara finansial namun berkemauan tinggi akan menjadikan mereka mandiri, tapi…,” cerita Pak Gudril terhenti oleh helaan nafas panjangnya, “di jajaran dewan paroki sendiri duduk beberapa orang yang sebelumnya pernah menjadi pesaing tender saya, dan rupanya bara dendam masih menyala di hati mereka walaupun sering mendoakan … seperti kami pun mau mengampuni orang yang bersalah kepada kami …, akhirnya proposal saya ditolak.” Katanya pula sambil tak sadar meremas-remas peyek yang ada di tangannya.
“Habis sudah kepercayaan saya pada Tuhan dan sesama manusia, itu adalah hari terakhir saya berharap pada Tuhan. Malam itu saya menangis tanpa air mata, tabungan yang semakin menipis hingga tinggal enam juta, ditolak di mana-mana,” tak sadar ujung-ujung mata Pak Gudril mengalir sejalur tipis air mata, “kemudian saya keluar rumah menuju halaman dan saya berteriak,’Heh Tuhan yang buta, tuli dan imbisil jika memang untuk merasakan gendongan-Mu jiwaku harus hitam dan pikiranku harus sesat lebih dahulu, maka mulai esok di titik balik fajar, aku akan menjadi sesat dan hitam, sehitam-hitamnya, ya, aku menantang-Mu !!!’ saya waktu itu seperti kerasukan dan mengacung-acungkan kepalan ke langit” kata Pak Gudril dengan agak berapi-api.
“Keesokan harinya saya mencari seorang mantan staff sales project saya, dan saya minta dikenalkan dengan germo yang dia kenal,” lanjut Pak Gudril sembari menyeka air mata. “Sudah rahasia umum Mas, untuk melancarkan tender proyek harus ada pelicinnya entah itu berupa materi atau wanita, dan itu masuk dalam biaya entertainment,” sekali lagi Pak Gudril menghela nafas. “Dia kaget setengah mati mendengar maksud saya, karena dahulu dia mengenal saya sebagai orang saleh, ’serius nih Pak ?,’ tanya dia waktu itu.”
“Saya menerangkan kesulitan saya padanya dan saya katakan kesalehan adalah makanan orang imbisil.” Lanjut Pak Gudril sembari geleng-geleng kepala mengingat masa itu.
“Lalu dia mengenalkan saya dengan seorang germo kelas tinggi yang bermain di tataran kelas atas, pekerja-pekerja seksnya banyak model kurang terkenal yang biasa digunakan untuk modeling kalender, baik domestik maupun luar negeri seperti dari Uzbekistan yang biasa disebut sebagai ‘kuda putih’ maupun dari daratan RRC dan Thailand.” sekali lagi Pak Gudril menghirup teh hijaunya yang sudah mulai dingin.
“Satu tahun saya menjadi asisten germo, saya jadi mengenal liku-liku dunia hitam pelacuran, saya tahu bagaimana sistem recruitmentnya yang susah-susah gampang, untuk mencari yang domestik agak susah, perlu banyak rayuan jebakan, sedangkan untuk yang dari luar negeri biasanya justeru mereka yang menawarkan diri,” kata Pak Gudril menjelaskan dunia pelacuran.
“Wow…!,” seruku setengah tak percaya.
“Penghasilan saya beranjak cepat, Mas, semenjak menjadi asisten germo, dalam sebulan saya bisa memperoleh antara tigapuluh hingga empatpuluh juta jika sedang ramai.” Lanjutnya dengan pandangan menerawang.
“Setengah tahun kemudian saya berpisah dari bos saya dan mendirikan escort agency sendiri, oh ya escort adalah istilah untuk pelacur high class, Mas.”
“Saya mendirikan agency sendiri karena ketidaksesuaian prinsip dengan mantan bos saya, dia senang menjebak gadis-gadis lugu dengan rayuan, sedangkan saya tidak suka cara itu, saya lebih suka mengatakan apa adanya, dan yang paling saya tekankan adalah rasa ketidaktakutan pada Tuhan, karena itu adalah bagian dari dendam saya waktu itu, saya paling tidak suka jika seorang calon escort lady masih membawa-bawa nama Tuhan.”
“Wah, Pak…aduh !,” seruku sambil geleng-geleng kepala.
“Ya, begitulah Mas, niat saya untuk menjadi sesat waktu itu tidak tanggung-tanggung, tidak suam-suam kuku.”
“Agency saya berkembang pesat karena dipenuhi gadis-gadis yang tulus untuk menjadi sesat, tidak setengah-setengah dan kami pun sepemikiran bahwa kesalehan adalah pekerjaan orang imbisil.”
“Bahkan permintaan dari luar negeri seperti Malaysia, Thailand, bahkan negara-negara timur tengah pun banyak. Agency saya menjadi salah satu favorit mereka.”
“Saya hidup dalam kesenangan duniawi yang tak terbayangkan Mas, waktu itu, bahkan beberapa gadis escort mau jadi simpanan saya.”
“Hufff…!!!” seruku tanpa kata-kata.
“Delapan tahun saya jalani bisnis hitam itu, tapi akhirnya terendus juga oleh intel kepolisian yang memang sudah lama mengincar saya, dan saya dikenai pasal trafficking, kemudian saya di-nusakambangan-kan.”
“Di Nusakambangan saya harus menjalani hukuman selama tiga tahun lima bulan,” kata Pak Gudril dengan mengambil nafas yang cukup dalam.
“Di situlah, dalam keterasingan saya merasakan kekeringan jiwa, saya baru menyadari banyak yang hilang dari diri saya.”
“Satu bulan sekali paroki ini melakukan kunjungan ke Nusakambangan, waktu itu masih Romo Bimo yang menjadi pastor paroki, dan setiap kali saya mengamati misa dari luar ada satu kekuatan luar biasa yang menarik saya dan mendorong saya melakukan kilas balik hidup saya.”
“Setelah tujuh bulan di Nusakambangan, baru saya memberanikan diri menemui Pak Tinus, lalu saya sampaikan maksud saya bertemu Romo Bimo untuk minta sakramen tobat.” Ungkap Pak Gudril sambil meraba dan mengusap-usap foto Pak Tinus.
“Pak Tinus itu seorang sahabat sejati Mas, bahkan senasib sepenanggungan dengan saya, dahulu dia adalah anggota angkatan darat berpangkat letnan, lalu dia difitnah demi kepentingan politik internal dan akhirnya desersi dan menjadi pembunuh bayaran.” Lanjut Pak Gudril dengan mata berkaca-kaca. “Dia menjalani hukuman selama 10 tahun sebagai kriminal di Nusakambangan juga.”
“Pak Tinus selalu berpesan bahwa pintu pondok kosteran terbuka lebar untuk saya jika saya selesai menjalani hukuman.”
“Apakah Bapak setelah selesai menjalani hukuman langsung ke sini, Pak ?” tanyaku ingin tahu.
“Tidak Mas, saya kembali ke Jakarta untuk melihat rumah saya.” Jawab Pak Gudril singkat.
“Kembali ke rumah, saya pikir akan menemui kondisi yang menyedihkan, kotor dan berdebu, tetapi apa yang saya temui membuat saya tercekat dan terjatuh lemas.” Lagi-lagi sejalur airmata turun.
“Rumah saya tetap bersih rapi walaupun di depan berdiri sebuah warung makan kecil yang sangat ramai.”
“Lalu ada suara memanggil saya dari dalam warung, ‘Pak Luk, Pak Luk, saya di sini,’ kemudian saya mendatangi warung dan saya lihat Mbak Sri pembantu saya menyambut dengan wajah gembira.”
“Saya langsung bersujud di kakinya Mas, saya ciumi kakinya seperti saya mencium kaki ibu saya sendiri, sebab dia adalah orang setia kedua setelah ibu saya.”
“Saya tidak bisa membayangkan orang dengan kesetiaan begitu besar menunggui tuannya yang hidupnya bejat sampai masuk penjara, dia sudah mengikuti saya sejak umur tigabelas tahun, sejak saya kaya raya sampai jatuh miskin, lalu ketika saya jadi bejat dia tetap mengikuti saya dalam pengabdian yang diam, akhirnya saya hanya bisa bersujud di kakinya.”
Tiba-tiba dari luar terdengar suara memanggil Pak Gudril, ” Pakne, ki lho dhahar siangmu, pesenmu pete goreng sambel trasi yo tak gawake (Pak, ini lho makan siangmu, permintaanmu pete goreng dan sambal terasi ya saya bawakan), “ suara yang empuk dengan logat khas Jogjakarta yang halus, berbeda dengan logat Banyumasan yang meledak-ledak.
Kulihat seorang ibu paruh baya yang samar-samar sering aku lihat di gereja, seorang ibu dengan badan agak gemuk pendek, wajah biasa saja namun cukup manis.
“Kenalkan Mas, ini isteri saya Yohanna Sri Wilujeng Handayani, dia harta pertama saya yang dikembalikan Tuhan melalui Pak Tinus, inilah orang yang saya ciumi kakinya sepulang saya dari Nusakambangan.”
“Sebulan setelah saya pulang dari Nusakambangan, Pak Tinus mampir ke rumah saya dan kami dijodohkan olehnya.”
“Halaaah Pakne ki crito opo yo, kok ngoyoworo ngene (halah, Bapak ini cerita apa ya, kok aneh-aneh begini),” sergah Bu Gudril malu-malu.
“Saya pilihkan nama baptis Yohanna untuk dia karena dialah yang telah membaptis kembali kehidupan saya yang penuh kebejatan, Mas.”
“Harta kedua yang dikembalikan Tuhan melalui Almarhum Pak Tinus adalah kepercayaan diri saya akan kemampuan saya dahulu di bidang engineering, dialah yang mengusahakan saya bisa mengajar di STM yayasan sebagai guru laboratorium.” Kata Pak Gudril sembari menunjuk bangunan STM yang berada persis di samping gereja.
“Saya memang tidak kembali sekaya dahulu, tapi sekarang inilah saya menemukan ketenangan hidup saya, terlebih anak adopsi saya sekarang juga sudah melanjutkan ke seminari menengah di Mertoyudan, saya sudah merasa memperoleh lebih dari cukup semua pemberian Tuhan ini, Mas.”
Ajakan Pak Gudril untuk makan siang bersama aku tolak, karena ibu di rumah pasti sudah masak untuk porsi keluarga dan aku tak mau mengecewakan dia. Aku pulang dengan bermacam-macam perasaan, dan hanya satu kesimpulanku Tuhan memang penuh misteri.
Tamat.
(Cerpen ini dipersembahkan untuk Romo Mikhael Sheko Pr. Pastor Paroki Gereja St. Lukas, Pemalang Jawa Tengah)
Catatan:
-Cerpen ini diramu dari pengalaman beberapa orang sejak 25 tahun yang lalu, termasuk pengalaman hidupku.
Langganan:
Postingan (Atom)
Pentjerita-pentjerita Goemoel Djiwa
Arsip Blog
Mengenai Saya
- Tjerita-tjerita Ketjil
- Blog ini merupakan saranaku untuk menuangkan cerita-cerita pendek yang scene-nya melintas di benak saya. Kisah-kisah di sini kudus/suci dari jiplakan/plagiatan/contekan sehingga jika ada kisah yang sama persis dengan yang saya tuliskan bisa dipastikan membajak/menjiplak/memplagiat dari cerpen saya.